Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

SPJ oh… SPJ

Beberapa hari ini ada kesibukan yang luar biasa yang melibatkan semua civitas, baik dosen, karyawan dan mahasiswa di fakultas. Anehnya, aktivitas yang satu ini tidak terkait dengan tridharma perguruan tinggi sama sekali.  Semua orang yang terlibat jadi serius, berpikir keras dan berkejaran dengan date line (mirip wartawan aja)….karena tanggal 5 Agustus semua harus klar!!!!.. Pembaca jangan heran…kegiatan yang menghebohkan tersebut adalah membikin SPJ kegiatan.

Bagi orang proyekkan, membikin SPJ kegiatan merupakan  makanan sehari-hari, tapi bagi dosen dan mahasiswa agaknya aktivitas yang satu ini membuat kerepotan yang luar biasa karena di dalam perkuliahan, ilmu ini nggak pernah diajarkan ataupun dijadikan materi praktikum.  Repotnya lagi, kalau  yang harus di-SPJ-kan adalah kegiatan yang belum dilakukan………..alias SPJ bodong!   Bagi mereka yang masih menggunakan standar moral, dapat dipastikan pekerjaan ini tidak akan pernah klar, atau andaikan dipaksakan pasti akan terjadi pergulatan luar biasa di dalam perasaan, karena mengacak-acak hati nurani.  Namun apa daya, kita seakan-akan  terjebak  dalam sebuah pakem yang harus diikuti,  sebuah sistem yang mau-tidak mau kita terpaksa menceburkan diri di dalamnya….

Jelas ini adalah suatu jalan yang salah, dan tidak mendidik. Apalagi kalau  dalam proses tersebut juga melibatkan mahasiswa.  Hal ini akan menjadi pendidikan moral yang tidak baik bagi para calon-calon pemimpin bangsa ini.

Apakah kita bisa keluar dari lingkaran setan SPJ  model ‘apus-apusan’ tersebut??   Menurut saya, bisa!  Sebab,  sistem tersebut sebenarnya kita sendiri yang membuatnya.  Ikhwal munculnya aktivitas tersebut adalah terkait dengan sistem manajemen keuangan model potong kompas.  Dalam ranah keuangan BLU terdapat mekanisme penurunan uang kegiatan  setidaknya ada empat model yang sering digunakan, yaitu: UP (Uang Persediaan), TU (Tambahan Uang) dan GU (Ganti Uang), serta LS. Dengan memenej sedemikian rupa penggunaan UP, TU dan GU, sangatlah mungkin perilaku pembuatan model SPJ yang mendahului kegiatan tersebut untuk dihilangkan….. Karena logika yang benar, sebelum kegiatan dilakukan, panitia pelaksana kegiatan semestinya mendapatkan uang muka untuk memulai kegiatan.  Pembuatan SPJ kegiatan dilakukan setelah kegiatan berjalan dan disesuaikan termin penyelesaian pekerjaan yang disepakati untuk mendapatkan GU.

Di awal tahun anggaran biasanya pihak pusat (Keuangan Rektorat) akan memberikan alokasi UP (uang persediaan) kepada tiap fakultas.  Ibarat lokomotif, mestinya penggunaan UP oleh fakultas harus  selektif dan memberi dampak multiplayer ke depan. Jangan sampai UP tersebut habis untuk satu kegiatan saja (misalnya satu kegiatan besar yang membutuhkan dana besar), karena jika itu terjadi berarti banyak kegiatan lain yang akan terbengkalai bahkan terhenti menunggu turunnya pengajuan  GU atau TU pertama (kadang tidak selancar yang diharapkan).  Selain itu, apapun alasannya kegiatan-kegiatan yang belum terdanai atau terealisir pada tahun sebelumnya, harusnya tidak boleh diluncurkan pada tahun berikutnya. Karena ini akan menyedot atau mengurangi  alokasi untuk tahun anggaran yang sedang berjalan,  bahkan dampaknya bisa membuat sejumlah kegiatan di bulan-bulan awal menjadi ‘mandeg’.  Sebenarnya kalau fakultas memiliki dana ‘talangan’  yang memadai  maka ‘kemandegan’ tersebut dapat dicegah. Meskipun sebenarnya keberadaan dana ‘talangan’ tersebut tidak dibenarkan dalam sistem BLU.   Sejumlah fakultas yang ‘kaya’, konon nyaris tidak mengalami kesulitan keuangan di awal tahun anggaran.

Sesulit apapun, semestinya kita harus segera berusaha menghentikan perilaku dan kebiasaan yang tidak baik  serta merusak tatanan moral kita.  Jika hal demikian berlanjut maka akan membuat  kehidupan kita tidak nyaman  dan nurani kita tercederai……

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Skip to toolbar