Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

Pantaskah aku jadi dekan??

Di sejumlah fakultas di UNDIP tiap 4 tahun sekali secara rutin menggelar ritual  pemilihan dekan baru. Suasananya berbeda-beda di tiap fakultas, ada yang gegap gempita, tetapi ada beberapa yang adem-ayem, meskipun suasana rivalitas antar calon sangat terasa. Ada yang sangat bernafsu ingin mencalonkan diri dan berusaha agar dirinya terpilih, tetapi ada juga yang nyalon karena terpaksa, asal ngglundung. Ibarat percaturan politik, ternyata terjadi juga pertarungan antar kepentingan, ada tim sukses, intrik…bahkan back campaign…..si A begini, si B begitu….. Tapi yang jelas, sangat jauhlah dibanding Pilpres atau Pilkada, karena si calon tidak perlu modal besar, cukup dengan kepangkatan lektor kepala dan relasi yang baik dengan rekan sejawat, terutama para anggota senat, maka akan menjadi modal cukup untuk bisa terpilih jadi dekan.  Yah, inilah pesta demokrasi kecil-kecil ala Fakultas.

Menurut  saya, track record bakal calon dekan sangat  perlu untuk diteliti dan dijadikan pertimbangan dalam menentukan calon dekan baru.  Dari sekian banyak kriteria, berdasarkan pembelajaran saya selama ini, yang paling utama harus dipenuhi oleh seorang calon dekan adalah yang bersangkutan harus tidak memiliki cacat yang terkait dengan “keuangan”   Perihal masalah yang satu ini, orang-orang di sub-bag keuangan memiliki file yang lengkap…. (sebaiknya para anggota senat mestinya nanya dulu ke sana sebelum memutuskan pilihan).  Siapa saja dosen yang suka  “ngiyip” terkait dengan per’duwitan’ semua direkam dengan baik oleh para administrator keuangan. Apabila seorang dosen yang memiliki ‘cacat ini’ terpilih jadi pemimpin, maka keberadaanya bukan solusi bagi masalah yang dihadapi fakultas, tetapi justru akan menjadi penyebab masalah baru.

Persyaratan penting kedua yang harus dimiliki calon dekan adalah kedisiplinan masuk kerja.  Pekerjaan seorang dekan banyak terkait dengan urusan administrasi dan koordinasi. Jika selama ini si-calon ke kampus saja jarang (lebih parah lagi kalau kerjaan di fakultas hanya sambilan) maka kalau yang bersangkutan terpilih jadi dekan riwayat bakal kacau balaulah manajemen fakultas, disposisi surat terlambat, koordinasi nggak jalan……..Jangan sampai, untuk kegiatan seremonial, misanya membuka acara nantinya sering diwakilkan dengan alasan ‘sibuk’…  Untuk data yang satu ini bagian satpam fakultas mempunyai file-nya.   Tapi untuk urusan yang satu ini bisa dengan cepat diperbaiki, salah satunya dengan cara memperbaharui komitmen kerja.

Persyaratan ketiga yang harus diperhatikan adalah terkait dengan bagaimana si-calon memperlakukan orang-orang ‘bawahan’ di fakultas.  Kalau selama ini  si-calon memiliki perilaku  tidak ‘nguwongke’, tidak ‘nganggep’, tidak ‘ngopeni’,  tidak suka berbagi dan tidak pernah ”tepo seliro’ pada orang-orang ‘bawahan’, maka jangan berharap banyak dibawah kepemimpinannya akan terjadi perubahan yang diinginkan…karena keinginan dan aspirasi kaum ‘proletar’ akan terabaikan…. Untuk data-data tentang hal ini silahkan ditanyakan ke orang-orang ‘bawahan’ di fakultas.

Mengingat betapa sulitnya untuk dapat memenuhi segala persyaratan ‘moral’ di atas, maka siapapun yang akan ikut bersaing di bursa pencalonan dekan mesti menyiapkan diri jauh-jauh hari… (.)

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Skip to toolbar