Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

Perlukah Fit and Proper Test Calon Dekan

Ada catatan menarik dalam dinamika proses pemilihan dekan FKM UNDIP 2010 yaitu ide fit and proper test bagi para bakal calon.

Pada tanggal 30 Juli 2010 Senat Fakultas mengadakan sidang pleno menindak lanjuti surat dari Rektor yang intinya meminta Senat Fakultas untuk segera melakukan pemilihan dan pengusulan calon dekan periode 2010-2014. Target kerja Senat Fakultas adalah tanggal 31 Agustus harus sudah menyelesaikan semua tahapan pemilihan dekan. Penentuan tanggal tersebut adalah sesuai aturan yang dikeluarkan universitas, bahwa selambat-lambatnya 3 bulan sebelum berakhirnya masa jabatan dekan harus sudah mengirimkan calon dekan baru ke Senat Universitas. Sebagai catatan, masa jabatan dekan periode sebelumnya berakhir pada tanggal 30 Nopember 2010.  Pada empat tahun lalu, Senat Fakultas melakukan voting penentuan dekan pada tangga 24 Agustus 2006. Artinya, tidak terjadi pergeseran waktu yang jauh dibandingkan perhelatan serupa tahun sekarang.

Kembali pada pokok cerita, pada rapat pertama tanggal 30 Juli telah diputuskan siapa saja panitia pemilihan dekan (PPD), tahapan/time skedul kerja dan persyaratan bakal calon (balon) dekan.  Anggota PPD yang terpilih sebanyak 7 orang yang terdiri 4 orang anggota senat dan 3 orang dari komponen dosen dan administrasi fakultas, dengan diketuai oleh sekretaris senat (sekaligus anggota), karena ketua senat/dekan mencalonkan kembali. Persyaratan utama sesuai peraturan universitas adalah calon berusia maksimal 61 tahun, berpendidikan magister dan memiliki jafung lektor kepala.

Yang ramai menjadi perdebatan pada rapat pertama tersebut adalah terkait dengan persyaratan calon dekan.  Munculnya perdebatan dalam kaca mata saya, dilatarbelakangi  kekawatiran sejumlah  anggota senat bahwa dosen yang memenuhi persyaratan jadi balon dekan relatif terbatas jumlahnya,  sehingga mereka berkeinginan  untuk menurunkan grade persyaratan dari lektor kepala menjadi lektor. Tetapi keinginan tersebut tidak disetujui oleh sebagian yang lain.  Kelompok yang tidak setuju terhadap wacana penurunan persyaratan beralasan bahwa bakal calon-lah  yang semestinya mengikuti standar peraturan yang ada, bukan sebaliknya, standar peraturan turunkan untuk disesuaikan dengan kualifikasi orangnya, kecuali bila benar-benar tidak ada yang memenuhi persyaratan, baru bolehlah grade diturunkan . Pada rapat pemilihan dekan empat tahun lalu, sebenarnya  aturan ini sudah selesai dibahas,  saat itu diputuskan: persyaratan bakal calon dekan harus memiliki jafung minimal lektor kepala atau satu grade lebih tinggi dari periode sebelumnya yang hanya lektor, dan akibat dari kesepakatan ini, incumbent dekan lama akhirnya tidak bisa masuk dalam bursa calon dekan periode keduanya.  Sungguh ironis, sehingga muncul anekdote pada waktu itu, bahwa beliau ibarat seseorang duda  sudah pernah menikah dan berhasil memiliki anak, tetapi kemudian  dikatakan yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan ketika dia mau menikah lagi.  Beliau merasa benar-benar didzalimi, karena persyaratan yang  telah ditetapkan tersebut dirasa ‘sengaja’ dibuat untuk mengganjal beliau yang kebetulan kepangkatannya masih lektor.  Oleh karena itu,  rasanya tidak adil, kalau pada pemilihan dekan periode ini,  ada keinginan agar grade persyaratan jafung tersebut diturunkan kembali agar beberapa orang yang masih memiliki jafung lektor bisa ikut mencalonkan diri….

Kembali ke pokok cerita, setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya rapat senat 30 Juli 2010 mengambil keputusan jalan tengah, yaitu persyaratan calon dekan mengadopsi aturan yang ditetapkan oleh universitas, hanya saja  jika jumlah bakal calon yang mendaftar kurang dari 3  orang maka persyaratan jafung akan diturunkan dari lektor kepala menjadi lektor dan akan dibuka penjaringan ulang. Adapun tentang tata cara penjaringan dan pemilihannya sepenuhnya mengacu pada peraturan universitas.  Ketika membahas item  yang berkaitan dengan  tata cara penjaringan dan pemilihan dekan, tidak ada tambahan aturan/ketentuan yang sampaikan oleh anggota senat, karena ini sudah menjadi ranah kerja PPD.  Namun belakangan ketika proses sudah berangsung sesuai tahapannya, ada keinginan sejumlah anggota senat untuk menambahkan persyaratan tambahan yang tidak terdapat pada peraturan universitas.  Inilah uniknya kita, suka tidak konsisten dengan keputusan yang pernah dibuat sebelumnya.

Waktupun bergulir masuk tahapan penjaringan, dan tim PPD mengirimi pada dosen yang memenuhi persyaratan form kesediaan untuk dicalonkan jadi dekan beserta syarat-syarat yang harus dilengkapi sesuai yang tertera pada peraturan universitas.  Persyaratan dan form kesediaan harus sudah dikumpulkan sampai batas waktu yang ditentukan, jam 14.00 tanggal 9 Agustus 2010.

Dari laporan tim PPD, yang akhirnya bersedia mencalonkan diri dan melampirkan persyaratan yang ditetapkan sebanyak 3 orang, yaitu: incumbent Bu Tinuk, Bu Fatimah dan Bu Laksmi. Tim PPD seanjutnya melakukan  proses verikasi sesuai kelengkapan persyaratan berdasarkan ketentuan universitas.  Dalam proses ini, saya mendengar bahwa  ada usulan dari salah seorang anggota PPD untuk menambah satu persyaratan lagi yaitu berupa surat keterangan  sehat, dan permintaan tersebut disampaikan melalui sms kepada para calon untuk segera disusulkan. Ada proses yang tidak prosedural disini,  karena  segala macam perberitahuan yang terkait dengan proses pencalonan kepada para balon semestinya melalui surat resmi dan ditandatangani ketua PPD. Belakangan diketahui bahwa tambahan persyaratan berupa surat sehat adalah bukan keputusan dari rapat tim PPD, tetapi atas inisiatif salah seorang anggota PPD. Ada apa dibalik semua itu, saya sendiri tahu.  Mungkin saja hal tersebut dilatarbelakangi adanya kekawatiran yang berlebih terhadap kondisi salah seorang bakal calon yang kebetulan baru saja sakit (sampai harus dioperasi).

Masalah persyaratan keterangan sehat dari dokter, seingat saya baik dalam pemilihan rektor ataupun pemilihan dekan sebelumnya bukan menjadi prasyarat pencalonan. Mungkin penting, tetapi menurut saya tidak merupakan persyaratan mutlak,  cukup sekedar sebagai syarat formil saja. Pada umumnya, mereka yang menjadi balon dekan, dilihat dari usia biasanya sudah menjelang manula, sehingga kalau mau fair sangatlah sulit untuk mencari balon yang benar-benar sehat (tidak sakit ganas, tidak dislipid, tidak obes, tidak pikun, tidak tekanan darah tinggi, tidak stroke, tidak DM, tidak ada masalah pada jantung, paru, hati dan ginjalnya serta bebas dari  penyakit metabolik lainnya).  Bahkan pada periode sebelumnya, ada salah satu bakal calon yang baru saja terkena serangan stroke tetap bisa maju dan  ketika itu tidak ada satupun anggota senat yang mempersoalkan.  Karena sifatnya sehat adalah ‘state’ atau kondisi sesaat maka sangat kurang pas kalau persyaratan ini dijadikan penentu layak tidaknya bakal calon dekan, kecuali yang bersangkutan benar-benar disable dan helpless.

Pada tanggal 18 Agustus 2010 dilakukan rapat penetapan bakal calon hasil penjaringan tim PPD. Pada rapat tersebut terjadi perdebatan yang berlarut -larut tentang perlu tidaknya fit and proper sebelum para bakal calon ditetapkan sebagai calon dekan.  Munculnya usulan tersebut tidak lepas dari penilaian sejumlah anggota senat, bahwa dari bakal calon yang mendaftar perlu dinilai kualitasnya dengan indikator track record, performa kepemimpinan, tingkat visioner-nya, kesehatan jasmani dan rohani, serta komitmennya sebelum ditetapkan sebagai calon dekan yang layak dipilih.  Intinya, mereka menghendaki sebelum ditetapkan sebagai calon dekan,  para balon harus lolos uji kelayakan terlebih dahulu. Jika dari balon dekan yang ada ternyata tidak memenuhi syarat uji kelayakan, maka Tim PPD akan melakukan penjaringan balon kembali.  Namun sebagian anggota senat yang lain berpendapat bahwa indikator-indikator kualitas tersebut sifatnya adalah subyektif, artinya sejumlah balon yang telah diajukan PPD kemungkinan  bisa saja tidak lolos  karena alasan-alasan subyektif tersebut, dan kalau proses ini diikuti maka penjaringan akan berlarut-larut dan memakan waktu. Kelompok ini berpendapat  bahwa  para balon hasil penjaringan Tim PPD sudah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai  calon dekan  karena sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan universitas, sehingga kegiatan penilaian fit and proper cukup dilakukan dalam forum pemaparan visi dan misi di depan anggota senat dan civitas.  Artinya, kalau mau ‘menguliti’ para calon kaitannya dengan sejumlah indikator kualitas tersebut di sinilah forumnya. Karena pembicaraan berlarut dan sampai pada taraf kebuntuan maka akhirnya dilakukan voting.  Akhirnya disepakati bahwa para balon hasil penjaringan Tim PPD sudah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai  calon dekan. Sangat dinamis diskusi  yang terjadi di forum rapat senat fakultas, dan tentunya ini merupakan pembelajaran yang bagus dalam berdemokrasi.  Kita harus legowo terhadap apapun yang terjadi, sekalipun itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.  Semoga lanjutan cerita proses penentuan calon dekan terpilih tanggal 30 Agustus 2010 berlangsung happy ending dan sesuai dengan harapan semua pihak.  Yang jelas tidak ada yang sempurna di dunia ini, kalau tidak ada yang terbaik, maka kita semestinya memilih yang baik diantara yang tidak baik……

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Skip to toolbar