Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

Belajar Tidak Mengenal Batas Waktu

Sering dalam keseharian kita mendengar banyak orang merasa dirinya sudah  terlalu tua untuk melakukan suatu  dan merasa sudah tidak mampu belajar hal baru dengan alasan faktor usia.  Semakin bertambahnya usia, memang tidak bisa dipungkiiri kemampuan daya ingat dan kemampuan belajar semakin berkurang.  Tetapi bukan berarti di usia tua kita sama sekali tidak dapat mempelajari pengetahuan atau teknologi  baru.  Ketuaan usia kita konon akan bisa terkalahkan dengan satu kiat yang namanya ketekunan dan tekad yang kuat.

Satu cerita yang dikisahkan oleh Skynews.com, Kamis (27/6/2013), ada seorang kakek  lanjut usia yang tinggal di Meksiko, berhasil menamatkan pendidikan sekolah dasar, di usianya ke 100 tahun.  Manuela Hernandez, yang lahir di negara bagian Oaxaca pada bulan Juni tahun 1913, harus meninggalkan bangku sekolah untuk membantu keluarganya yang sangat miskin.  Dia  melanjutkan sekolah  pada di usia 99 tahun, dengan rekomendasi dari salah satu cucunya.  Berkat kegigihannya, ia berhasil menamatkan pendidikannya, dan menerima ijazah sekolah dasarnya dalam sebuah perayaan yang diadakan di negara bagian selatan Meksiko.  Setelah lulus sekolah dasar, meskipun sudah berumur, Hernandez berencana melanjutkan sekolahnya ke tingkat menengah.

Bagaimana dengan diri kita?  Manusia sesungguhnya adalah pembelajar yang baik.  Dunia ini adalah sekolah informal bagi kita atau sekolah kehidupan (way of life).  Tantangan kehidupan adalah guru-guru kita. Sadar ataupun tidak sadar,  kita setiap hari belajar tentang banyak hal baru, tantangan hidup baru dan strategi baru. Anjuran agama agar kita belajar dari saat di gendongan sampai dengan menjelang ke liang lahat adalah benar adanya.

Namun ketika kompetensi dan kemampuan sesorang mulai diukur dari capaian pendidikan formal, maka terjadi lah pergeseran pola dari kegiatan yang kemudian kita sebut ‘sekolah’ .  Proses pendidikan tidak lagi berjalan apa adanya seperti halnya di pendidikan informal.  Penyelenggaraan pendidikan di sekolah formal mengikuti aturan-aturan formal, dengan penjenjangan dan target-target dari capaian pembelajaran dinyatakan dengan jelas dan terukur. Akibat kondisi ini, banyak orang yang kemudian merasa berat  ketika harus melewati tata aturan di pendidikan formal tersebut.  Terlebih lagi dengan munculnya pembiayaan yang harus dibayar oleh peserta didik, sebagai akibat penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara teroorganisir untuk memenuhi standar yang ditetapkan.  Sebagai akibatnya banyak calon peserta didik  yang melakukan  perhitungan untung rugi untuk ketika berencana melanjutkan ke jenjang pendidikan tertentu.  Apakah keuntungan yang diperoleh setelah lulus dari jenjang pendidikan tertentu, apakah impas dengan biaya dan waktu yang dikorbankan sering menjadi adalah pertanyaan yang sering muncul di benak peserta/calon peserta didik

Kondisi inilah yang kemudian  menyebabkan jenjang pendidikan formal menjadi tidak mudah untuk dijadikan sebagai bagian dari proses belajar yang tidak mengenal batas waktu.   Jika kita menginginkan masyarakat kita memiliki pendidikan formal yang tinggi, maka mau tidak mau pemerintah harus campur tangan mengatasi hambatan yang ada.  Pemerintah bisa mengambil peran dengan mengeluarkan kebijakan yang mampu menghilangkan barrier pembiayaan (misalnya: kebijakan sekolah gratis, beasiswa massal, bantuan fasilitas  dll), penataan sistem pendidikan (misalnya : menerapkan dan mengawal Standar Pendidikan Nasioanal), dan memberi keutungan (nilai tambah) bagi peserta didik yang telah menamatkan jenjang pendidikan tertentu. Orang menjadi kurang tertarik untuk melanjutkan jenjang pendidikan jika setelah lulus yang bersangkutan kemudian menganggur atau tidak memperoleh penghargaan yang setimpal dari kemampuan atau profesi yang dimiliki.   Ketika lulusan dari bangku pendidikan tidak menjanjikan, maka orang akan tidak tertatik untuk melanjutkan pendidikan.  Ini adalah tantangan bersama yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan, penyedia lapangan kerja dan pemerintah untuk terwujudnyabelajar tidak mengenal batas waktu……..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan yang sederhana, kenapa kakek yang sudah

 

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Skip to toolbar