Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

Biografi

Saya anak desa yang sejak kecil  bercita-cita menjadi seorang Insinyur

 

Sebelum saya bercerita tentang perjalanan hidup saya, perkenankan saya terlebih dahulu memperkenalkan diri.

Nama  lengkap  :   Suyatno, Ir. MKes.

Profesi                  :  Dosen di Bagian Gizi

Instansi                :  Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP Semarang.

Alamat Instansi :

  • Jl Prof Sudharto, SH. Kompleks UNDIP Tembalang Telp/Fax. 024-7460044

Alamat Rumah  :

  • Jl. Pucang Anom Timur VI/35 Perumnas Pucanggading, Batursari, Mranggen –  Demak 59567 – Indonesia

Contact/E-mail :  08122815730 / suyatno_undip@yahoo.com

Jabatan                :

  1. Dosen di FKM UNDIP sejak tahun 1994 sampai sekarang
  2. Ketua Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat FKM UNDIP 2003 – 2007
  3. Pembantu Dekan FKM UNDIP bidang Kemahasiswaan 2007 – 2015

Hobby                  :  Berkebun

Bidang Penelitian :  Gizi, Kesehatan Masyarakat, Gender & Ekonomi Pangan


Saya dilahirkan sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari seorang Ayah dan Ibu yang luar biasa, Bapak Heru Utomo (Alm) dan Ibu Suminah (Alm). Tempat kelahiran saya Desa Pundenarum, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Jarak desa tersebut dari kota kabupaten lumayan jauh, sekitar 15 km.

Masa kecil saya seperti halnya anak-anak desa pada umumnya, sehari-hari banyak diisi bermain ke sawah, sungai, ladang atau pekarangan rumah. Pada saat itu suasana desa masih sepi, belum seramai sekarang, bahkan waktu itu listrik belum ada, jalan belum diaspal hot mix dan keluarga yang punya TV masih satu-dua.

 

masa kecil bersama keluarga besar kakek-nenek

Foto bersama keluarga besar kakek (saat SMP)

Saya mengawali masa sekolah, di sekolah Taman Kanak-kanak (TK), namanya TK Aristini, yang letaknya hanya duaratus meter dari rumah. Masa sekolah di taman kanak-kanak, merupakan saat yang menyenangkan dan ketika itu saya memiliki guru favorit, namanya Bu Tarti. Saya ngefans banget sama ibu guru yang satu ini, karena orangnya baik, sabar, cantik dan kulitnya hitam manis (lucu ya!). Dua tahun saya bersekolah di taman kanak-kanak tersebut, sebelum akhirnya saya melanjutkan sekolah di salah satu sekolah dasar di desaku, yaitu SD Inpres Pundenarum 2.

Sekolah dasar yang saya masuki ketika itu baru dua tahun berdiri, dibangun oleh pemerintah melalui Program SD Inpres. Gurunya ketika itu hanya beberapa orang, sehingga ketika saya kelas satu kelasnya masih digabung dengan sekolah dasar tetangga.

Saya baru serius belajar ketika menginjak kelas tiga SD, saat itu naluri bersaing dengan temen-temen sekelas mulai terbentuk. Mulai tumbuh keinginan dalam diri sendiri untuk tidak kalah dengan temen sekelas dalam nilai ujian dan raport. Saya lebih suka memilih belajar sendiri/mandiri, tidak suka diganggu orang lain, sehingga nyaris jarang saya belajar dalam kelompok. Ketika itu belum ada kegiatan les private, yang ada hanya tambahan pelajaran oleh guru kelas di sekolah, terutama saat menjelang ujian akhir (EBTA) saat kelas 6.

Selain buku pelajaran, bacaan favoritku waktu itu adalah majalah berbahasa Jawa ‘Penyebar Semangat’ dan majalah bulanan untuk pegawai negeri, majalah ‘Krida’. Kebetulan Ayah dan Om (adik dari Ibu) adalah seorang guru Sekolah Dasar (SD), sehingga setiap awal bulan mendapat jatah majalah ‘Krida’.

Sejak kelas 4 sekolah dasar saya telah memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur pertanian. Munculnya cita-cita tersebut karena terinspirasi dari cerita tentang profil seorang remaja puteri yang sering dimuat di majalah ‘Krida’, setiap kali muncul di majalah dia selalu bilang memiliki cita-cita ingin jadi Insinyur Pertanian karena dia ingin membantu para petani agar lebih makmur hidupnya. Kebetulan ayah waktu itu selain sebagai guru SD juga seorang petani kecil-kecilan, sehingga sepertinya cita-cita tersebut rasanya pas untuk saya. Akhirnya keinginan dan cita-cita tersebut terus terpelihara dan memberi arah pada pilihan-pilihan pendidikanku pada tingkat selanjutnya.

Prestasi belajarku selama di sekolah dasar cukup lumayan dan sering juara kelas, bahkan hasil ujian akhir (EBTA) tertinggi di antara temen sekelas. Pendidikan sekolah dasar berhasil saya selesaikan selama 6 tahun.

Selain belajar, sewaktu duduk di Sekolah Dasar saya pernah mewakili sekolah dalam beberapa invitasi atau kejuaraan antar sekolah di tingkat  kecamatan dan kabupaten. Dua kali saya pernah menjadi juara pertama invitasi catur antar siswa sekolah dasar  se-kecamatan. Meskipun tidak pernah berprestasi, sejak SD  saya menyenangi olah raga bulu tangkis, bahkan sampai sekarang.


Foto masa kecil bersama adik-adik

Foto bersama Kedua Adik saya Budi Santosa dan Ngesti Mugyarti (tahun 1988)

Setamat sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikan di SMP. Sekolah yang saya pilih SMP Negeri Karangawen, waktu itu merupakan satu-satunya SMP negeri di kecamatan. Pulang pergi sekolah saya mengendarai sepeda ontel, karena pada waktu itu belum ada angkutan umum, yang ada hanya dokar (kereta kuda) atau gerobak sapi. Dalam hal prestasi belajar, selama di bangku SMP dapat dikatakan cukup lumayan, saya sering menjadi juara kelas. Saat kelas tiga saya berhasil memperoleh beasiswa pendidikan Supersemar. Selain belajar, saya juga belajar berorganisasi di OSIS, bahkan saya pernah menjabat sebagai wakil ketua OSIS.  Pendidikan SMP dapat saya selesaikan selama tiga tahun dan lulus  tahun 1983 dengan satu prestasi yang cukup membanggakan, saya berhasil memperoleh nilai EBTANAS yang tertinggi di antara temen sekelas paralel  satu sekolahan.

Selepas lulus SMP, saya melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA. Pada saat itu saya mendaftar di dua sekolah yaitu Sekolah Pendidikan Guru (SPG Negeri Demak) dan Sekolah Menengah Atas (SMA2 Semarang). Berdasarkan hasil test penerimaan siswa baru, saya berhasil diterima di kedua sekolah tersebut. Bapak saya  sebenarnya menyarankan saya melanjutkan ke SPG saja, karena pada waktu itu menjadi guru sekolah dasar (lulusan SPG) merupakan pekerjaan yang sangat diminati masyarakat. Selain sekolahnya tidak terlalu lama, biaya yang dibutuhkan juga masih terjangkau oleh ekonomi keluarga. Namun saya justru lebih tertarik untuk bisa kuliah di perguruan tinggi, dalam benak saya ketika itu, kalau aku jadi guru SD berarti nasibku akan sama dengan Bapak.  Yang terpikirkan oleh saya saat itu, saya harus mampu mencapai kehidupan yang lebih baik dari Bapak dan Ibu.   Akhirnya saya pun lebih memilih melanjutkan ke SMA Negeri 2 Semarang.

Jarak SMA dari rumah lumayan jauh, sekitar 20 km, sehingga saya memutuskan untuk kost dan tiap akhir pekan pulang ke desa. Tidak terlalu sulit bagi  saya mengikuti pelajaran di sekolah, bahkan selain belajar saya juga sempat aktif dalam kegiatan organisasi sekolah.  Saya sempat menjadi ketua kelas, dan menjadi pengurus OSIS.  Dalam hal prestasi belajar, Alhamdulillah saya bisa bersaing dengan temen-teman sekelas. Prestasiku tergolong cukup baik dan selama dua semester awal berhasil meraih ranking 1 di kelas. Karena prestasi tersebut, maka pada saat sekolah mendapat tawaran untuk mengirim siswa guna mengikuti seleksi peserta Program Pertukaran Siswa, maka saya mendapat tawaran dari Kepala Sekolah untuk menjadi utusan sekolah. Tanpa berfikir panjang, saya menyambut tawaran tersebut dan ikut menjadi peserta seleksi  bersaing dengan sejumlah siswa utusan dari kabupaten lain di Provinsi Jawa Tengah. Program yang ditawarkan pada saat itu adalah Program Pertukaran Siswa antar Provinsi. Sungguh di luar dugaan, ternyata saya lolos menjadi menjadi salah satu siswa (dari 2 siswa)  utusan Provinsi Jawa Tengah di program tersebut selama setahun. Lokasi penempatan saya adalah salah satu SMA yang berada di Kota Ambon Maluku (tahun 1985/1996).

monas-10-7-85
Bersama siswa pertukaran siswa se-Indonesia di Tugu Monas Jakarta 10 Juli 1985 (jongkok, kiri depan)

Akhirnya pada bulan Juni 1985 saya berangkat mengikuti Program Pertukaran Siswa. Sebelum ke lokasi penempatan, saya bersama siswa peserta program mengikuti Pelatihan selama seminggu di Jakarta, tepatnya di  Wisma Haji di Jl Fatmawati Jakarta Selatan. Selain mengikuti materi pembekalan, kami juga diajak ke sejumlah lokasi wisata di Jakarta dan bertemu dengan sejumlah penjabat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sempat di ajak jalan-jalan ke Ancol, Taman Mini dan Monas serta Hotel Indonesia (di bundaran HI).  Setelah seminggu mengikuti kegiatan pembekalan,  sayapun diberangkatkan ke lokasi penempatan yaitu ke Ambon, bersama temen saya Erik. Penerbangan dari Jakarta ke Ambon pada saat itu merupakan pengalaman saya pertama kali naik pesawat terbang (saat itu usia saya 16 tahun).  Kami berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta dengan mengggunakan pesawat Garuda. Saya masih ingat,  Bandara Cengkareng (Sukarno-Hatta) pada saat itu baru saja selesai dibangun sehingga kondisinya masih gersang karena tanaman peneduhnya belum bersemi.

Saya melalui pendidikan kelas 2 SMA bersama temen-temen saya di SMA Negeri 1 Ambon.  Selama setahun di Ambon saya tinggal di rumah keluarga yang ditunjuk sebagai keluarga asuh saya, yaitu keluarga Bpk/Ibu Soplantila (pejabat di Dikmenum Kanwil Dikbud Propinsi Maluku) di Gang Mayang 1 Jl. Pahlawan Revolusi Ambon, Maluku.  Setahun hidup di rantau dan terpisah jauh dari orang tua benar-benar memberi pengalaman yang luar biasa dan sekaligus pendewasaan pada diri saya. Meski hanya setahun, saya merasakan waktu berjalan lambat, terasa demikian lama. Pada bulan-bulan pertama tinggal di Ambon, saya agak kerepotan melakukan penyesuaikan dengan kebiasaan dan karakter keluarga yang saya tinggali dan lingkungan pergaulan saya yang baru.  Beruntung saya memiliki berapa teman baru yang sangat welcome dan banyak membantu kesulitan saya (terima kasih untuk Dian Muharini, Mukhlis, Bobby Nasution, Ronny, Ian Lekatompesy.. dkk, masih ingatkan dikau padaku?).  Ada nasehat teman baru saya yang masih membekas di hati saya sampai saat ini: “jika kamu memasuki lingkungan yang baru, ibaratkan dirimu  seekor kambing yang masuk di kandang singa…. jangan merubah dirimu menjadi seekor singa, tetapi cukuplah kamu belajar mengaung seperti singa.. kita boleh menyesuaikan diri tetapi tetaplah jadi diri sendiri”

 

ambon-16-7-85
Acara penerimaan pertukaran siswa di Ambon 16 Juli 1985 (pake seragam SMA, tengah)

Selama di Maluku, saya sempat berkunjung ke sejumlah tempat di pulau Ambon dan juga di pulau lain, salah satunya adalah Pulau Saparua (tempat kelahiran Petinju versi IBF dari Indonesia Elias Pical).  Waktu itu saya dan kawan-kawan SMA naik perahu tradisional menuju pulau Saparua, kami butuh waktu 3 jam untuk sampai ke sana dari Pulau Ambon. Ombaknya lumayan besar, takut juga membayangkannya andai perahu tersebut tenggelam, karena saya sama sekali tidak bisa renang….

Setelah naik ke Kelas 3 SMA, saya balik lagi ke Semarang dan menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 2 Semarang. Memang sedikit banyak ada perbedaan kualitas sekolah, sehingga ketika saya kembali ke SMA 2 Semarang, harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalan pelajaran agar dapat mempersiapkan EBTANAS dengan baik. Meskipun begitu, di sela-sela kesibukan belajar, saya masih sempat aktif dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, salah satunya kegiatan paduan suara di sekolah.

Mengikuti pentas seni 17-08-1986 (kelas 3 SMA)
Mengikuti Pentas Seni 17-08-1986  Pada Saat kelas 3 SMA (jongkok, kedua dari kanan)

Peluang melanjutkan kuliah ke jenjang perguruan tinggi terbuka lebar, setelah saya lolos dalam seleksi PMDK (dari SMA ku saat itu hanya ada 2 orang yang lolos). Alhamdulillah, saya berhasil diterima sebagai calon mahasiswa di Institut Pertanian Bogor. Berarti impianku untuk menjadi seorang Insinyur bakal bisa terwujudkan!    Selain itu, ada hal luar biasa yang terjadi di luar dugaanku, ternyata selain diterima program PMDK, saya juga berhasil mendapatkan nilai ujian EBTA Nasional (NEM) yang baik dan tertinggi dibanding temen-temen satu sekolahan (kelas paralel)…  Saya terharu dan  bahagia, begitu selesai membaca pengumuman,  saya lantas pulang dengan berjalan kaki dari sekolah (di Semarang) sampai ke rumah (di Demak). Peristiwa tersebut benar-benar sebuah kenangan indah, saya butuh empat jam perjalanan untuk sampai rumah.. rasanya seperti seorang tentara yang berjalan pulang dengan membawa kemanangan .. Subhanaallah.

Pada bulan Juli 1987 saya berangkat ke Bogor untuk mendaftar ulang sebagai calon mahasiswa di IPB Bogor. Saya berangkat sendirian ke Bogor, tidak ditemani siapapun, dengan berbekal uang  Rp 300 ribu yang diberikan Bapak  dari hasil pinjam sana-sini.  Bekal uang tersebut rencananya untuk keperluan daftar ulang dan untuk biaya hidup selama mengikuti awal pendidikan (matrikulasi).  Saya beruntung, ketika itu ada beberapa saudara sepupu saya yang sedang merantau di Jakarta (Mas Rinto, Mas Didik dan Joko Subandrio), sehingga selama sebulan pertama saya bisa menumpang di rumah kontrakan mereka (di Jalan Suci, Cijantung), hanya saja setiap hari harus bolak-balik Bogor-Jakarta untuk kepentingan kuliah. Perjalanan Bogor-Jakarta pada waktu itu butuh waktu 1-2 jam melalui Jl Bogor, sehingga saya harus berangkat pagi-pagi dan pulang sampai Jakarta malam hari.  Karena terlalu capek, saya sering ketertiduran dalam perjalanan bahkan beberapa kali saya  kebablasan dan baru terbangun setelah bis yang saya naiki sampai terminal…  Mengingat jadwal kuliah yang semakin padat (bahkan sering ada kegiatan responsi pada malam hari) akhirnya pada bulan kedua saya memutuskan untuk kost.  Setelah ke sana-kemari mencari tempat kos-kosan yang murah dan terjangkau, akhirnya saya menemukan tempat kost yang sesuai  di Babakan Fakultas di rumah Pak Odji, letaknya di sebuah lembah di sebelah timur Kampus IPB di Jalan Pajajaran (lokasi kampus sekarang sudah berubah jadi Mall).  Temen2  suka menamai lokasi kos-kosan kami adalah Hongkongnya Bogor, karena rumahnya padat dan tidak teratur. Saya mengontrak sebuah kamar sederhana dan sempit seharga Rp 120 ribu setahun….

Di Kamar Kos-kosan mahasiswa tk1- juli 1989
Di kamar Kos-kosan di Bogor Juli 1989

Dukungan finansial dari keluarga untuk menopang biaya kuliah saya saat itu dapat dikatakan sangat pas-pasan. Maklumlah, Bapak hanya seorang guru SD lulusan SGB dengan golongan dua (II-b) sedang Ibu tidak bekerja, sementara masih ada dua adik saya yang masih membutuhkan biaya sekolah. Pada saat itu gaji seorang guru SD sangatlah pas-pasan untuk membiayai keluarga, belum ada tunjangan sertifikasi guru atau tunjangan lain. Sehingga banyak guru pada saat itu  gajinya minus karena banyaknya potongan hutang di sana-sini. Untuk bisa membiayai sekolah saya dan adik-adik, Bapak saya kadang harus mencari kerjaan sambilan…yaitu jadi tukang ojek, itu beliau lakukan sejak saya masih SMP… sebuah perjuangan yang luar biasa…( Semoga Allah membalas perjuangan Almarhun Bapak dengan pahala yang berlipat).  Karena keadaan inilah, saya bertekad untuk dapat menyelesaikan kuliah saya…….  dan saya harus jadi pemenang!.  Meskipun kondisi keluarga saya demikian, saya berusaha untuk tetap percaya diri dalam mengikuti perkuliahan dan kegiatan di kampus.  Ketika suasana hati sedang down, saya selalu berusaha menyemangati diri sendiri, “Ayo Yat…jangan jatuh…jangan terpuruk…, kamu pasti bisa…kasihan Bapak Ibu di rumah yang menunggu dan mengharap kesuksesanmu..”  Moto penyemangat  yang selalu saya katakan pada diri sendiri: “Saya harus menjadi yang terbaik diantara yang baik, atau setidaknya jadi yang baik diantara yang tidak baik..”

Sungguh Allah maha besar,  menginjak semester 3 saya berhasil mendapatkan beasiswa dari Bank Dunia.  Alhamdulillah dengan beasiswa tersebut, saya tidak harus membayar  SPP dari Tingkat 2 (semester 3) sampai dengan tingkat akhir dan mendapatkan uang saku sebesar Rp 25.000 per bulan serta mendapat uang untuk penelitian skripsi Rp 100 ribu (kurs dolar waktu itu sekitar 1$=Rp 1.200,-).  Beasiswa tersebut sungguh sangat membantu beaya kuliah saya, sehingga saya hanya kadang-kadang saja  meminta kiriman uang dari orang tua.  Ada satu hal yang kadang membuat saya geli, banyak temen-temen kuliah saya pada saat itu yang mengira saya anak dari keluarga yang berada …….

bersama temen-temen kuliah di S1 GMSK-IPB
Bergaya Bersama-sama Teman-teman Kuliah di GMSK – IPB Bogor Angkatan-24/masuk tahun 1987 (ketiga dari kiri)

pengabdian-bogor-9-88
Kegiatan di Masyarakat Bersama-sama Teman-teman Kuliah di GMSK – IPB Bogor Angkatan-24 (Jongkok keempat dari kiri)

Perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan di IPB terasa sangat berat, apalagi pada saat itu masih menggunakan sistem paket SKS dimana mahasiswa dalam satu tahun sudah mendapatkan paket SKS yang harus diambil. Kami tidak  akan naik tingkat jika ada mata kuliah yang tidak lulus (mendapat nilai E) sekalipun hanya satu mata kuliah saja.  Kesempatan mengulang nilai tidak ada, tidak ada ujian ulang atau sisipan/semester pendek, sehingga setiap ujian kami harus berlajar sungguh-sungguh, karena sekali hasil jelek maka akan tercetak di transkrip nilai akhir.  Pada saat itu, tiap mata kuliah ada tiga kali ujian yang sudah terjadwal, sehingga nyaris tiap minggunya selalu ada jadwal ujian yang harus dijalani. Yang kadang membuat stress, semua hasil ujian diumumkan secara terbuka atau hasil penilaian dibagikan sehingga kami bisa menghitung kira-kira kami akan mendapat nilai apa di mata kuliah tersebut.   Mahasiswa yang memiliki IPK di atas 3 (skala 0-4) dapat dikatakan benar-benar pintar.  Belakangan sistem pendidikan ini ditinggalkan dan sudah berubah manggunakan SKS murni, namun  sistem baru ini diberlakukan setelah saya lulus.

Serah terima Pengurus HMJ Himagita 10-06-1989
Serah terima Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan ‘HIMAGITA’ 10-06-1989 (kedua dari kanan)

 

Di tengah suasana perkuliahan di IPB yang lumayan padat, saya masih berkesempatan untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Bahkan saya sempat dipercaya menjadi ketua panitia penerimaan mahasiswa baru jurusan dan juga menjadi pengurus inti di BEM Fakultas dan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Ternyata pengalaman ini sangat bermanfaat ketika akhirnya saya bekerja sebagai dosen dan banyak berhubungan dengan kegiatan kemahasiswaan.

Selain kuliah, saya juga ikut terlibat menjadi asisten praktikum membantu dosen atau profesor di beberapa mata kuliah. Diantaranya, saya pernah menjadi asisten praktikum Sosiologi Pedesaan membantu Prof. Pujiwati Sayogyo dan saya memperoleh sertifikat kenang-kenang yang ditandatangani Prof. Sayogyo. Selain itu saya juga pernah menjadi asisten praktikum Analisis Zat Gizi dan Manajemen Sumberdaya Keluarga. Pengalaman menjadi asisten praktikum ternyata sangat bermanfaat bagi penyiapan diri saya untuk menjadi seorang dosen di kemudian hari.

 

Penelitian di Lab Biokinia

Penelitian dengan tikus di Lab Biokimia

puslibanggizi-6-91

 

Akhirnya pendidikan sarjana berhasil saya tempuh selama 4,5 tahun dan pada bulan Juni 1992 saya berhasil diwisuda sebagai seorang Sarjana Pertanian (sebutannya masih Insinyur ketika itu). Pada saat wisuda tersebut Bapak-Ibu dan Adikku Budi Santosa datang ke IPB Bogor, sempat hadir pula pada acara tersebut teman dekatku yang sekarang jadi istriku. Yang lebih surprise pada periode wisuda saat itu, saya berhasil menjadi wisudawan terbaik dari Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian dan namaku menjadi salah satu yang dipanggil oleh Rektor… Subhanallah.  Saya tidak tahu bagaimana perasaan Bapak dan Ibu waktu itu, tapi saya yakin beliau merasa bersyukur bahwa perjuangan beliau selama ini dalam membiaya pendidikan saya tidaklah sia-sia… Tidak terasa  air mataku tidak mampu ku tahan…terima kasih Allah….terima kasih Bapak dan Ibu… Aku akhirnya berhasil jadi seorang Insinyur!…. Ini adalah persembahan terindah untuk Bapak dan Ibu-ku.

Semuanya begitu mulus waktu itu, begitu lulus saya diterima bekerja menjadi tenaga lapang pada sebuah penelitian tentang tumbuh kembang anak di daerah Malabar – Pengalengan, Bandung (Team Leadernya Dr. Husaini dan Dr. Abas Basuni). Namun hanya dua bulan saya bertahan disana, setelah itu saya kembali ke Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian sebagai dosen magang di bawah ampuan Dr. Suprihatin Guhardja. Hanya satu tahun saya bertahan menjadi dosen magang di jurusan tersebut. Saya akhirnya memutuskan untuk keluar, sebab pada saat itu kemungkinan untuk dapat diangkat menjadi PNS di IPB sangat kecil akibat diberlakukannya kebijakan zero-growth dalam penerimaan PNS baru oleh pemerintah.

Selanjutnya, saya mencoba peruntungan di Jakarta. Selama setahun saya berusaha mencari pekerjaan di Jakarta, dan sejumlah peluang saya coba agar bisa survive. Saya pernah mengikuti Pelatihan Manajemen Pemasaran PT Tempo, menjadi Surveyor di PT Surindo Utama Jakarta, pernah pula mencoba mengambil kuliah MBA (BBA) di IPPMI – Jakarta dan lain-lain kegiatan. Selama tahun 1993, saya benar-benar dalam ketidaktentuan, dan selama itu saya menumpang di rumah saudara di kawasan Gang Mukri – Kramatjati Jakarta (di Rumah Padhe Amin).

Akhir tahun 1993 saya memutuskan untuk kembali ke Semarang, dan melamar menjadi dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Setelah melalui proses seleksi yang cukup memakan waktu, akhirnya mulai tanggal 1 April tahun 1994 saya resmi menjadi Dosen dengan status PNS dan bertahan sampai sekarang.  Saya mengambil keputusan untuk menjadi dosen, karena saya merasa memiliki bekal untuk menjalani profesi ini dan saya menyukainya meskipun dari segi materi jauh lebih rendah dibanding temen-temen yang memilih bekerja di swasta. Hidup adalah sebuah pilihan. Apapun itu, saya merasa sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki dan capai saat ini. Sebuah episod perjalanan telah berhasil saya selesaikan dengan baik.

Karier sebagai dosen saya rintis di Bagian Gizi FKM UNDIP. Suasana perkuliahan dan atmosfir akademis yang saya jumpai di  FKM UNDIP memang jauh beda dengan di tempat saya kuliah dulu. Mahasiswa di FKM UNDIP jauh lebih santai dengan jadwal perkuliahan dan ujian juga tidak terlalu ketat. Dari sisi kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa, kondisi ini sangat menguntungkan. Menjadi dosen banyak suka dan dukanya,  tapi yang jelas banyak sukanya. Setiap hari ketemu orang-orang muda yang masih penuh dengan semangat dan idealisme.

 

lokakarya-kurikulum-bagian-gizi-fkm-undip-08
Bersama teman-teman dosen bagian gizi dalam Lokakarya Kurikulum FKM-UNDIP, 2008 (berdiri di tengah)

Pada tahun 2008 saya melanjutkan pendidikan magister (S2) di Universitas Gadjahmada Yogyakarta, tepatnya di Magister Pelayanan Gizi, Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Saya terdaftar sebagai angkatan pertama di Magister ini. Belakangan nama magister tersebut berubah nama menjadi Magister Ilmu Gizi.  Saya berhasil menyelesaikan pendidikan S2  selama 2,5 tahun,  dengan  IPK 3,84 dan tercatat sebagai lulusan terbaik dalam wisuda di Universitas.

Setelah saya menyandang gelar S2, perjalanan karier saya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro cukup lancar. Pada tahun 2003 (usia 35 tahun) saya terpilih untuk menjabat Ketua Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, dan setelah itu pada tahun 2007 saya terpilih sebagai Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan. Usia saya masih relatif muda ketika terpilih sebagai Pembantu Dekan, yaitu 39 tahun, dan tercatat sebagai Pembantu Dekan dengan latar belakang pendidikan non dokter pertama di Fakultas kami.

bersama mahasiswa

Bersama kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa FKM UNDIP di Desa Binaan, 2009

 

Ketika pada tahun 2007  saya dipercaya untuk mengurus bidang kemahasiswaan selaku Pembantu Dekan, saya merasa menemukan dunia saya ketika kuliah dulu. Mahasiswa membutuhkan ruang yang cukup untuk bisa mengekspresikan keinginanan dan potensinya, sehingga saya memberi kesempatan berkembangnya berbagai unit kegiatan kemahasiswaan di FKM UNDIP, ada Unit Kegiatan KSR, seni, pecinta alam (atmosfer), riset mahasiswa dll.  Pada tahun 2011 saya terpilih kembali untuk menjabat sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan periode kedua. Bagi saya, ini sebuah amanah berat yang harus saya pikul, sekaligus tantangan untuk membawa prestasi kemahasiswaan FKM UNDIP ke arah strata yang lebih tinggi.

expo2009
Foto bersama Tim Expo FKM UNDIP pada Dies UNDIP 2009

 

Terkait dengan kehidupan berkeluarga, saya menikah menjelang usia 26 tahun, dengan istri Yuni Dwi Setyorini yang pada saat itu berusia 25 tahun. Istri saya adalah temen sekolah sewaktu saya SMA kelas 3.   Akad nikah dilakukan pada tanggal 3 Juni 1994 bertepatan dengan tanggal ulang tahun istri saya. Kami menikah sebenarnya hanya berbekal nekad, tanpa bekal yang memadai, belum punya rumah, kendaraan apalagi mobil…yang ada hanya barang-barang hasil kado pernikahan dan gaji yang pas-pasan.  Beruntung,  kami mendapat tawaran dari Pakdhe Istri saya (Pak Dhamar) untuk menumpang tinggal di rumah di Jl. Anjasmoro Raya 20.  Kami sempat tinggal di sana selama 10 bulan. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari, kami hanya mengandalkan gaji saya sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) dan  istri saya sebagai karyawan rendahan di perusahaan swasta. Untuk mengatur keuangan, kami terpaksa membuat amplop-amplop kecil yang kami tulisi sesuai peruntukkannya, misalnya: transport papi, transport mami, uang makan dll. Pada kenyataannya, sering kali uang yang kami miliki keburu habis sebelum kami sempat memasukkannya di semua amplop yang ada.  Dan amplop-amplop tersebut sampai sekarang masih tersimpan rapi di laci almari kami…

Saat ini saya memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu: Prima, Lana dan Lila. Anak sulung saya Primadhani Dyah Larasati lahir tanggal 27 Maret 1995, anak nomor dua Maulana Ihsan Yusuf lahir tanggal 29 Juli 1996 dan si-bungsu Aisha Kalila Laksita lahir tanggal 16 April 2005.  Saya berharap mereka menjadi generasi penerus yang hebat dan lebih sukses dari kedua orang tuanya.

my-family

Bersama Keluarga

Klik :

si kecil belajar belanja

si kecil belajar renang

Pengalaman rohani saya yang luar biasa adalah pada saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2010 (1431 H). Pada saat itu saya berangkat bersama istri dan kedua bapak-ibu mertua (Bapak Pegeng Sugiyanto dan Ibu Sri Ununi).  Selama sekitar 40 hari, dari tanggal 17 Oktober sampai 29 Nopember 2010, kami meninggalkan rutinitas kerja dan persoalan duniawi guna mememenuhi panggilan Allah ke Baitullah.

“Aku menjadi tamu Allah”….. sungguh kalimat  itu terasa sangat luar biasa dan mengharukan. Sebelumnya, saya takut membayangkannya…saya takut  tidak pernah dipanggil untuk menjadi tamu-Nya… Karena banyak orang sholeh, orang yang berilmu, orang yang berjuang di jalannya yang setiap hari selalu berdoa untuk dapat  ke Baitullah, namun sampai akhir hayatnya belum terwujudkan… apalagi saya orang dengan banyak kekurangan dan banyak melakukan kesalahan. Tetapi Allah berkendak lain, semua urusan saya ternyata dimudahkan, dan akhirnya saya dan istri dapat berangkat sesuai rencana.

 

 

Di depan Ka’bah

Ketika pertama kali aku berdiri di depan Ka’bah  tidak terasa air mataku menetes tanpa kuasa kutahan… Allahu Akbar.  Saya sungguh merasa kecil di antara jutaan manusia yang berthawaf mengelilingi Ka’bah dan yang bertafakur di Padang Arafah. “Labbaika allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk, laa syariika lak”  (Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala pujian, keni’matan dan kerajaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Pada saat itu saya terbayang wajah Alm. Bapak dan Ibu, karena perjuangan dan pengorbanan beliau berdualah  saya bisa meraih kesempatan ini. Berdua dengan istri, alhamdulillah kami berkesempatan untuk mengumrohkan beliau berdua, dan kami bertekad dan berniat untuk dapat datang lagi ke Baitullah untuk khusus menghajikan beliau berdua. Semasa beliau berdua masih hidup, beliau sempat berkeinginan untuk bisa berhaji namun belum pernah kesampaian karena memang kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

Bersama Keluarga di Baitullah Masjidil Haram, Makkah

Bersama Istri di Majidil Nabawi, Madinah

Apa yang sempat kutulis disini, hanya sebuah kilasan perjalanan hidup dalam rangkaian kata-kata yang sederhana, ini belum melukiskan semua pergulatan dan perjuangan hidup saya.  Masih diperlukan banyak torehan tinta untuk menceritakan semua kepahitan hidup  dan indahnya pengharapan serta kenyataan dalam perjalanan hidup saya.

Sampai pada titik ini, saya tersadarkan bahwa kita hidup harus mempunyai sebuah impian. Yaitu sesuatu yang mendorong dan menjadi cambuk bagi kita untuk mewujudkan dan meraihnya. Sesuatu pencapaian tertinggi  yang bisa kita banggakan di hadapan Allah, di hadapan orang tua kita dan anak-anak kita.  Hidup ini hanya sebentar… harus berarti… sebelum mati.

—————— sekian——————

 

(Sebuah persembahan untuk Almarhumah Ibu, klik di sini)

(Pengorbanan orang tua kita ternyata luar biasa, klik di sini)

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

Skip to toolbar