Kata Mutiara

Jadilah yang terbaik di antara yang baik atau setidaknya menjadi yang baik di antara yang tidak baik

Archive for the ‘Inspirasi Hari Ini’ Category

Ramadhan 1436 H

18 Juni 2015  Awal Ramadhan.

Tidak terasa waktu bergulir …dan ini menjadi Ramadhan yang ke-47 yang pernah kulewatkan.

Ramadhan tahun ini terasa sesuatu banget.  Allah sungguh maha pengasih dan pemurah.

Alhamdulillah…..

 

KISAH SEORANG LELAKI YANG INGIN MEMUKUL RASULULLAH S.A.W.

Kisah ini berlaku kepada Rasulullah S.A.W. sebelum baginda wafat.

Rasulullah S.A.W. telah jatuh sakit yang agak panjang masanya. Hinggakan baginda tidak dapat berjemaah dengan para sahabat di masjid.

Maka pada suatu hari, Rasulullah S.A.W. meminta beberapa orang
sahabat membawanya ke masjid. Di dudukkan atas mimbar, lalu baginda meminta Bilal memanggil
semua para sahabat datang ke masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa terobati
rindu setelah agak lama tidak
dapat melihat Rasulullah S.A.W.

Lalu Rasulullah S.A.W.
berkata: “Wahai sahabat-sahabatku semua! Aku ingin tanya pada kamu
semua…. apakah telah aku
sampaikan kepada kamu semua, bahwa sesungguhnya Allah
S.W.T. itu adalah Tuhan yang
layak di sembah?”

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, ” Benar! Engkau telah sampaikan kepada
kami bahawa sesungguhnya Allah S.W.T. adalah Tuhan yang layak disembah”.
Rasulullah S.A.W. berkata:
“Persaksikanlah ya Allah!
Sesungguhnya aku telah
sampaikan amanah ini kepada mereka”. Kemudian baginda berkata lagi…….dan setiap apa yang baginda perkatakan, akan
dibenarkan oleh semua para
sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu topik yang menjadikan para sahabat agak sedih dan terharu….
Rasulullah S.A.W. berkata:
“Sesungguhnya! Aku akan pergi bertemu Tuhanku dan sebelum aku pergi, aku ingin selesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada
kamu semua…… siapakah di
kalangan kamu yang aku ada
hutang dengannya…..silahkan
bangun…..aku ingin selesaikan hutang tersebut. Kerena aku tidak mau bertemu Tuhan dalam
keadaan berhutang dengan
manusia”.

Ketika itu semua sahabat
diam………….sedang dalam hati masing-masing berkata “Mana ada Rasullullah S.A.W. berhutang dengan kami……….sebenarnya kamilah yang banyak berhutang dengan baginda”.

Rasulullah S.A.W. mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.
Tiba-tiba bangun seorang lelaki yang bernama AKASYAH. lalu dia
berkata:

“Ya Rasulullah! Aku ingin
ceritakan dulu perkara ini. Andai ini dianggap hutang, maka aku minta kau jelaskan, dan Seandainya ini bukan hutang, maka tidak
perlulah engkau berbuat apapun.”

Rasulullah S.A.W. berkata:
“Ceritakanlah wahai Akasyah”.

Maka Akasyah pun mulai bercerita:
“Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menaiki kuda, lalu engkau pukulkan cemeti ke belakang kuda. Tetapi cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda,…yang sebenarnya cemeti itu mengenai dadaku kerana saat itu aku berdiri di sebelah belakang kuda yang engkau tunggang wahai Rasulullah”.

Mendengar yang demikian, terus Rasulullah S.A.W. berkata:
“Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Akasyah! kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama”. Dengan suara yang agak tinggi, Akasyah berkata:
“Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah!”.

Akasyah seakan-akan tidak rasa bersalah bila mengatakan yang demikian. Sedangkan ketika itu
sebahagian sahabat berteriak
memarahi Akasyah…. “Sesungguhnya engkau
tidak berhati wahai Akasyah! bukankah Baginda sedang sakit!”

Akasyah tidak menghiraukan
semua itu. Rasulullah S.A.W. meminta Bilal mengambil cemeti tersebut di rumah anaknya Fatimah.

Bila Bilal meminta cemeti tersebut dari Fatimah, maka Fatimah bertanya:
“Untuk apa Rasulullah meminta cemeti ini wahai Bilal?”.

Bilal menjawab dengan nada
sedih : “cemeti ini akan digunakan oleh Akasyah untuk memukul Rasulullah”.
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
“Kenapa Akasyah hendak pukul ayahku Rasulullah! ayahku sedang sakit. kalau mau pukul, pukullah aku ini anaknya”.

Bilal menjawab:”Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka
berdua”.

Bilal membawa cemeti tersebut ke masjid lalu diberikan kepada Akasyah.

Setelah mengambil cemeti, Akasyah maju ke hadapan menuju mimbar.
Tiba-tiba bangun Abu bakar
menghalang Akasyah sambil
berkata:
“Wahai Akasyah! kalau kamu
hendak pukul, pukullah aku. aku orang yang mula-mula
beriman dengan apa yang
Rasulullah S.A.W. sampaikan.
Akulah temannya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak pukul, maka pukullah aku”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah
S.A.W:
“Duduklah kamu wahai Abu
Bakar!….ini bukan urusan kamu. Ini antara aku dengan Akasyah”.

Akasyah maju lagi ke hadapan, lalu bangun pula Umar menghalang Akasyah seraya berkata:
“Akasyah! kalau engkau hendak pukul, pukullah aku… Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu… Sekarang jangan ada siapapun yang berani menyakiti Muhammad. Kalau engkau mau sakiti dia, maka sakitilah aku dulu….”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah
S.A.W:
“Duduklah kamu wahai Umar! Ini urusan antara aku dengan
Akasyah”.

Akasyah maju lagi ke
hadapan…….tiba-tiba bangun
pula Ali bin Abu Talib sepupu
Rasulullah S.A.W.

Dia menghalang Akasyah seraya berkata:
“Akasyah! pukullah aku wahai
Akasyah. Darah yang sama ada pada tubuh aku ini wahai Akasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah
S.A.W:
“Duduklah kamu wahai Ali! ini
urusan antara aku dengan
Akasyah” .

Akasyah maju lagi ke
hadapan……tiba-tiba tanpa di
sangka, bangunlah dua orang
cucu kesayangan Rasulullah
S.A.W. iaitu Hassan dan Husin. Mereka berdua merayu dan meronta.
“Wahai pak paman! pukullah kami
paman…kakek kami sedang sakit…
pukullah kami wahai paman. sesungguh nya kami ini adalah cucu kesayangan Baginda…pukullah kami wahai paman”.

Lalu Rasulullah S.A.W berkata:
“Wahai cucu-cucu kesayanganku!
duduklah kamu. Ini urusan aku dengan Akasyah”.

Bila sampai di tangga mimbar, dengan tegasnya Akasyah berkata:
“Bagaimana aku hendak pukul engkau ya Rasulullah! Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau hendak aku pukul, maka turunlah ke bawah sini”.

Rasulullah S.A.W. memang
seorang insan yang baik. Baginda meminta beberapa orang sahabat memapahnya ke bawah. Baginda didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Akasyah berkata lagi:
“Sewaktu engkau pukul aku dulu, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah”.

Tanpa menunda, dalam keadaan lemah……Rasulullah membuka baju. Lalu kelihatanlah tubuh Baginda yang sungguh indah, sedang beberapa butir batu terikat di perut Baginda. ini menandakan Baginda sedang
menahan lapar.

Lalu Rasulullah S.A.W. berkata:
“Wahai Akasyah! bersegeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Tuhan akan murka pada
kamu”.

Akasyah terus menghampiri
Rasulullah S.A.W…lalu mulai mengayunkan tangan dengan memegang cemeti untuk dipukulkan ke tubuh Rasulullah S.A.W.

Rupa-rupanya sambil Akasyah menghayun cemeti, sambil itu juga dia mengarahkan cemeti ke arah lain dan saat itu juga dia terus memeluk tubuh
Rasulullah S.A.W. seerat-eratnya. Sambil berteriak menangis, Akasyah berkata:
“Ya Rasulullah, ampunkanlah
aku……maafkanlah aku……mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah……..sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu…….kerana sesungguhnya aku tahu bahawa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sesungguhnya aku takut dengan api neraka……..maafkanlah aku ya Rasulullah”.

Rasulullah S.A.W. dalam keadaan penuh iba lalu berkata:
“Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kamu ingin melihat ahli syurga, maka lihatlah kepada Akasyah”.

Semua sahabat tidak dapat menghalang titisan air mata yang mencurah di pipi masing-masing. Sambil itu semua para sahabat
beramai-ramai memeluk
Rasulullah S.A.W.

Belajar Tidak Mengenal Batas Waktu

Sering dalam keseharian kita mendengar banyak orang merasa dirinya sudah  terlalu tua untuk melakukan suatu  dan merasa sudah tidak mampu belajar hal baru dengan alasan faktor usia.  Semakin bertambahnya usia, memang tidak bisa dipungkiiri kemampuan daya ingat dan kemampuan belajar semakin berkurang.  Tetapi bukan berarti di usia tua kita sama sekali tidak dapat mempelajari pengetahuan atau teknologi  baru.  Ketuaan usia kita konon akan bisa terkalahkan dengan satu kiat yang namanya ketekunan dan tekad yang kuat.

Satu cerita yang dikisahkan oleh Skynews.com, Kamis (27/6/2013), ada seorang kakek  lanjut usia yang tinggal di Meksiko, berhasil menamatkan pendidikan sekolah dasar, di usianya ke 100 tahun.  Manuela Hernandez, yang lahir di negara bagian Oaxaca pada bulan Juni tahun 1913, harus meninggalkan bangku sekolah untuk membantu keluarganya yang sangat miskin.  Dia  melanjutkan sekolah  pada di usia 99 tahun, dengan rekomendasi dari salah satu cucunya.  Berkat kegigihannya, ia berhasil menamatkan pendidikannya, dan menerima ijazah sekolah dasarnya dalam sebuah perayaan yang diadakan di negara bagian selatan Meksiko.  Setelah lulus sekolah dasar, meskipun sudah berumur, Hernandez berencana melanjutkan sekolahnya ke tingkat menengah.

Bagaimana dengan diri kita?  Manusia sesungguhnya adalah pembelajar yang baik.  Dunia ini adalah sekolah informal bagi kita atau sekolah kehidupan (way of life).  Tantangan kehidupan adalah guru-guru kita. Sadar ataupun tidak sadar,  kita setiap hari belajar tentang banyak hal baru, tantangan hidup baru dan strategi baru. Anjuran agama agar kita belajar dari saat di gendongan sampai dengan menjelang ke liang lahat adalah benar adanya.

Namun ketika kompetensi dan kemampuan sesorang mulai diukur dari capaian pendidikan formal, maka terjadi lah pergeseran pola dari kegiatan yang kemudian kita sebut ‘sekolah’ .  Proses pendidikan tidak lagi berjalan apa adanya seperti halnya di pendidikan informal.  Penyelenggaraan pendidikan di sekolah formal mengikuti aturan-aturan formal, dengan penjenjangan dan target-target dari capaian pembelajaran dinyatakan dengan jelas dan terukur. Akibat kondisi ini, banyak orang yang kemudian merasa berat  ketika harus melewati tata aturan di pendidikan formal tersebut.  Terlebih lagi dengan munculnya pembiayaan yang harus dibayar oleh peserta didik, sebagai akibat penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara teroorganisir untuk memenuhi standar yang ditetapkan.  Sebagai akibatnya banyak calon peserta didik  yang melakukan  perhitungan untung rugi untuk ketika berencana melanjutkan ke jenjang pendidikan tertentu.  Apakah keuntungan yang diperoleh setelah lulus dari jenjang pendidikan tertentu, apakah impas dengan biaya dan waktu yang dikorbankan sering menjadi adalah pertanyaan yang sering muncul di benak peserta/calon peserta didik

Kondisi inilah yang kemudian  menyebabkan jenjang pendidikan formal menjadi tidak mudah untuk dijadikan sebagai bagian dari proses belajar yang tidak mengenal batas waktu.   Jika kita menginginkan masyarakat kita memiliki pendidikan formal yang tinggi, maka mau tidak mau pemerintah harus campur tangan mengatasi hambatan yang ada.  Pemerintah bisa mengambil peran dengan mengeluarkan kebijakan yang mampu menghilangkan barrier pembiayaan (misalnya: kebijakan sekolah gratis, beasiswa massal, bantuan fasilitas  dll), penataan sistem pendidikan (misalnya : menerapkan dan mengawal Standar Pendidikan Nasioanal), dan memberi keutungan (nilai tambah) bagi peserta didik yang telah menamatkan jenjang pendidikan tertentu. Orang menjadi kurang tertarik untuk melanjutkan jenjang pendidikan jika setelah lulus yang bersangkutan kemudian menganggur atau tidak memperoleh penghargaan yang setimpal dari kemampuan atau profesi yang dimiliki.   Ketika lulusan dari bangku pendidikan tidak menjanjikan, maka orang akan tidak tertatik untuk melanjutkan pendidikan.  Ini adalah tantangan bersama yang harus dijawab oleh penyelenggara pendidikan, penyedia lapangan kerja dan pemerintah untuk terwujudnyabelajar tidak mengenal batas waktu……..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan yang sederhana, kenapa kakek yang sudah

 

UNDIP IDOL 2012 SEBUAH AWAL

Dari sekian banyak kegiatan Dies Natalis UNDIP yang ke-55 TAHUN 2012 ada satu kegiatan yang baru yang belum pernah diselenggarakan oleh panitia pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu pemilihan Undip Idol 2012. Undip Idol 2012, salah satu dari serangkaian kegiatan yang cukup mendapat apresiasi positif dari mahasiswa.  Pada malam final yang akhirnya melahirkan bintang baru di bidang tarik suara. Andre Hari Triwibowo, mahasiswa jurusan D3 Akuntansi keluar sebagai pemenang di malam Grand Final Undip Idol (5/10) hadir lebih lebih dari seribu penonoton yang sangat antusias mendukung para kontestan yang tampil di Gedung Prof Soedarto .

Ide untuk menyelenggarakan event Undip Idol ini sebenarnya sejak lama muncul di benak saya. Selaku Pembantu Dekan III di FKM Undip, saya telah mengusung kegiatan ini sejak tiga tahun lalu untuk tingkat fakultas.  Dalam sejumlah pertemuan Rakor Bidang III Undip, beberapa kali saya melontarkan usulan bagaimana kalau event serupa digelar di tingkat Universitas dengan label Undip Idol. Namun sayang tidak ada tanggapan dari para peserta Rakor.  Baru pada tahun 2012 ini, ketika saya ditunjuk sebagai Ketua II (Wakil Ketua) Panitia Dies Undip ke-55,  item kegiatan pemilihan Undip Idol saya masukkan sebagai  salah satu kegiatan yang diperlombakan.  Saya sangat berterima kasih atas bantuan dan dedikasi Mukhlis Reza Sukmana bersama tim-nya yang telah membantu mengelola kegiatan ini dari awal hingga akhir dengan semangat juang yang luar biasa.  Saya juga salut atas dedikasi yang luar biasa dari  mas Jefry Franklin Bode dan Rizky ‘Awan’ yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menjadi juri Undip Idol.       Ide memang dari saya, tetapi tanpa mereka  saya rasa kegiatan tersebut tidak akan berlangsung dengan meriah dan sukses.

Saya sangat  surprise ternyata ajang pencarian bakat yang terinspirasi dari salah satu program di stasiun televisi swasta ini mendapat tanggapan luar biasa dari mahasiswa Undip, tercatat 173 mahasiswa Undip mengikuti audisi yang dilakukan dengan beberapa tahapan. Pada tahapan pertama, tiap peserta menyanyikan sebuah lagu di depan juri di ruangan tertutup dan tersaring 32 peserta yang mendapatkan golden ticket untuk melanjutkan babak selanjutnya. Setelah itu terpilihlah 11 finalis yang mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan terbaiknya di malam grand final. Saya yang didaulat oleh Reza untuk ikut menjadi juri di malam final tersebut (bersama mas Jefry Franklin Bode dan Pak Bagoes Widjanarko) sangat kagum dengan penampilan kesebelas finalis yaitu: Yulita (Hukum), Bella (Ilmu Perpustakaan), Aditya (Teknik Geologi), Luthfia (Sastra Inggris), Ulfi (Teknologi Pangan), Aretha (Teknik Arsitektur), Ulung (Oceanografi), Teja (Hubungan Internasional), Andre (D3 Akuntansi), Kunta (Biologi), dan Infra (Ilmu Komunikasi).  Ternyata Undip menyimpan mahasiswa dengan segudang potensi, kesebelas finalis mampu membawakan lagu dengan ciri khas masing-masing, mulai dari genre pop, jazz, rock hingga jawa. Kualitas suara mereka mampu membuat penonton terpesona.

What next?…. saya berharap ajang ini merupakan sebuah awalan dan dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang.  Banyak mahasiswa yang berharap event ini diselenggarakan secara rutin tiap tahun.  Namun jika event ini dikaitkan dengan kepanitiaan dies Undip rasanya tidak ada jaminan untuk dapat terselenggara secara rutin, mengingat kepanitiaan Dies Undip bergilir dari satu fakultas ke fakultas lain di lingkungan Undip.  Saya pernah berdiskusi dengan teman-teman  di fakultas tentang ide membantuk Manajemen Undip Idol untuk menjamin keberlangsungan penyenggaraan Undip Idol di waktu-waktu mendatang dan melakukan pembinaan bagi para juara yang telah terpilih.  Butuh waktu dan pematangan untuk memilih format yang terbaik dan diterima semua pihak, dan semoga pimpinan Universitas menganggap ini sebagai hal yang penting untuk dilakukan, semoga.

Semarang 9 Oktober 2012

Kunci Ingin Sukses: Lakukan segera.

Banyak orang termasuk saya, ingin mencapai kesuksesan, ingin memiliki pendidikan S1, S2 bahkan S3.  Ingin bisa naik haji, memiliki usaha, melakukan ini dan itu…  Semua angan-angan yang baik itu ternyata hanya akan menjadi angan-angan, kalau kita tidak segera memulainya, jika tidak segera melangkah, dan tidak segera mengawalinya.  Konon langkah yang pertama adalah menjadi langkah penentu. Kedengarannya sederhana, tetapi untuk memulai mengerjakan sesuatu ternyata bukan pekerjaan yang mudah.  Banyak faktor pemberat dan penghambat. Tidak salah jika ada salah satu ustad yang berulang-ulang berucap, jangan menunda hal-hal baik, kerjakan saat ini juga… sebelum kita berubah pikiran.

Temen-temen yang sekarang sudah menyandang gelar S3 sebenarnya banyak diantara mereka yang bermodal nekad, yang penting dijalani..kapan lulusnya urusan nanti… dan akhirnya gelar doktor pun bisa diraih , meski lulusnya lebih dari 5 tahun ..bahkan 10 tahun.  Tetapi mereka termasuk orang yang beruntung, berbeda dengan saya. Keinginan saya untuk studi lanjut ke S3 sudah ada sejak lama, tetapi ya itu selalu saja ada yang membuat saya tidak jadi berangkat. Ujung-ujungnya setelah saya pikir-pikir penyebabnya ternyata  cuma satu, saya tidak pernah berani memulainya, tidak pernah segera mendaftar.

Untuk urusan berani memulai,  istri saya lebih jago dibandingkan saya.  Salah satu contohnya adalah berkaitan dengan keinginan kami berdua untuk pergi haji beberapa waktu yang lalu.  Awal kejadian nya berlangsung sekitar tahun 2007,  ketika itu istri saya berkata “ayo pa.. kita ikutan buka tabungan haji, tidak mahal kok setoran pertamanya cuma 500 ribu “..  Mendengar itu saya tidak bisa menjawab segera, karena dalam pikiran saya ketika itu untuk setoran pertama sih bisa tetapi dengan sisa gaji yang ada, sepertinya mustahil untuk bisa mengisinya secara rutin.  Andaikan bisa, tentunya butuh waktu lama untuk bisa terkumpul dan cukup untuk mencapai 20 juta per orang agar bisa dapat nomor porsi haji (jumlah setoran mulai tahun 2010 naik jadi 25 jt).  Dalam pikiran saya,  nanti-nanti sajalah kalau sudah waktunya dan sudah banyak rejeki baru saya mendaftar.   Namun tanpa menunggu persetujuan saya, ternyata istri saya sudah langsung membuka tabungan haji.  Dia bilang, yang penting buka dulu, tentang berapa tahun lagi kesampaian naik hajinya adalah urusan Allah…   Hanya karena ingin menyenangkah hati istri, maka saya  kemudian ikutan membuka tabungan haji, itupun terjadi setelah lebih dari setahun kemudian.   Apa yang terjadi setelah itu ternyata di luar dugaan saya.  Dengan adanya tabungan haji tersebut seakan-akan ada motivasi untuk menambah dan mengisi tabungan agar lebih banyak.  Tiap kali saya dapat honor di luar gaji rutin (seperti jadi pembicara, penelitian, mengajar dan lain-lain) langsung saya masukkan ke tabungan… dan hasilnya di luar dugaan kami.  Hanya butuh dua tahun sejak saya membuka tabungan haji,  jumlah simpanan saya dan istri bisa mencapai  angka 40 juta dan syarat untuk bisa mengambil nomor porsi haji bagi kami berdua bisa terpenuhi.  Akhirnya 2 tahun kemudian, tepatnya tahun 2010, kami berdua benar-benar bisa berangkat ke tanah suci menunaikan perintah haji. ..  Saya berfikir, andaikan ketika itu istri saya tidak memaksa saya untuk memulai membuka tabungan haji, mungkin lain ceritanya,  bisa jadi saya tidak akan pernah bisa menyisihkan uang khusus untuk haji..

Hikmahnya adalah…. jika ingin meraih sesuatu yang baik, maka segera melangkah..segera memulai berproses… tentang bagaimana hasil akhirnya nanti .. insyaallah Allah akan menolong dan membimbing kita.

Ditulis:  Suyatno, Ir. MKes

Semarang, 31 Oktober

 

 

Catatan: Permasalahan di Balik Penerapan Sistem Remunerasi di Tingkat Fakultas di Universitas Diponegoro

Istilah remunerasi saat ini bukan lagi istilah asing di telinga kita. Istilah remunerasi sekarang ini sedang menjadi bahan pembicaraan baik di media cetak maupun elektronik khususnya berkaitan dengan gaji aparatur negara dan pegawai negeri sipil. sudut pandang tata bahasa Indonesia dimana kata remunerasi dan renumerasi ini memiliki arti yang jauh berbeda. Menurut Kamus Bahasa Indonesia dan Tresaurus Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, remunerasi mempunyai arti pemberian hadiah (penghargaan atau jasa), bayaran, imbalan, kompensasi, atau upah sedangkan renumerasi adalah penomoran kembali. Kadang-kadang ada juga artikel di internet yang salah menuliskan “Remunerasi” jadi “Renumerasi”. Nah remunerasi-remunerasi yang lagi heboh belakangan ini menyangkut pada PNS atau biasa disebut dengan Remunerasi PNS, Disini yang dimaksud dengan Remunerasi PNS ini adalah payment atau penggajian seperti yang saya sebutkan diatas. Remunerasi PNS tersebut dimaksudkan untuk mendorong agar menjadi SDM yang berkualitas, dan tidak pindah ke swasta, juga akan mengurangi KKN.

Ada lima prinsip yang akan diterapkan dalam reformasi sistem remunerasi yaitu: 1. Sistem merit, yaitu penetapan penghasilan pegawai berdasarkan harga jabatan; 2. Adil, dalam arti jabatan dengan beban tugas dan tanggung jawab pekerjaan dengan bobot yang sama dibayar sama dan pekerjaan yang menuntut pengetahuan, keterampilan serta tanggung jawab yang lebih tinggi, dibayar lebih tinggi; 3. Layak, yaitu dapat memenuhi kebutuhan hidup layak (bukan minimal); 4. Kompetitif, di mana gaji PNS setara dengan gaji pegawai dengan kualifikasi yang sama di sektor swasta, guna menghindari brain drain; 5. Transparan, dalam arti PNS hanya memperoleh gaji dan tunjangan resmi.

Konon, per 1 Juli 2011 Universitas Diponegoro akan menerapkan system remunerasi untuk meningkatkan kinerja Fakultas dan Universitas. Persiapan dan simulasi telah dilakukan oleh pihak terkait di tingkat universitas dan fakultas. Melalui penerapan remunerasi diharapkan memunculkan kesadaran dari setiap individu PNS untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan tugas pokok fungsi (Tupoksi) nya masing-masing. Untuk mendukung keperluan tersebut Rektor Universitas Diponegoro telah mengeluarkan Peraturan Rektor Universitas Diponegoro No. 197/PER/H7/2011 pasal 13 dan 14  tentang Pedoman Penetapan Evaluasi Penilaian Kenaikan dan Penurunan Jabatan dan Peringkat bagi Pejabat dan Pelaksana di Lingkungan Universitas Diponegoro.  Apa saja keuntungan, kerugian dan permasalahan  yang kemungkinan muncul akibat kebijakan ini, berikut ulasannya secara sekilas

 

Keuntungan:

  1. Dengan SK remunerasi, maka di Fakultas  tidak ada lagi bermacam-macam SK ata surat tugas, karena pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan tupoksi tidak boleh lagi dibuat SK/ST, dengan demikian  masing2 subag tidak memungkinkan lagi meng create SK/Surat Tugas untuk menambah pendapatan dari setiap pekerjaan yang dilakukan
  2. Penerimaan (take home pay) masing-masing pejabat atau staf nominalnya jelas, terbuka dan transparan (meski berpeluang menimbulkan kecemburuan)

 

Kerugian dan Permasalahan yang akan Timbul:

  1. Jika remunerasi Fakultas dibebankan pada DIPA Fakultas, maka sebagian besar belanja Fakultas akan tersedot untuk membeayai remunerasi dan akan menghambat program2 yang lain serta pengembangan fakultas
  2. Karena remunerasi hanya diberikan di level manajemen dan administrasi/TU, maka akan menimbulkan perasaan iri pada dosen karena sebelumnya mereka juga memperoleh SK dari berbagai kegiatan dan kegiatan rutin di unit kegiatan Fakultas
  3. Dengan penyeragaman remunerasi untuk level jabatan yang sama, maka akan berpeluang  menimbulkan kecemburuan, terutama bagi mereka yang beban kerjanya berat, karena beban kerja berat atau ringan (misal: kasubbag/staf keuangan dan umper) akan menerima remunerasi yang sama.
  4. Pelibatan dosen dalam unit-unit kegiatan di fakultas akan sulit dilakukan apabila SK dekan tidak diperbolehkan lagi dan ini akan mengganggu kegiatan di fakultas.
  5. Sertifikasi dosen baru diterima oleh sebagian dosen, sehingga mereka yang belum menerima sertifikasi akan merasa dianaktirikan, karena tidak tersentuh sistem remunerasi.
  6. Disparitas yang tinggi antara total remunerasi yang diterima penjabat di fakultas dan universitas (pusat) untuk jabatan/ekselon yang sama dapat menyebabkan kecemburuan sosial yang tinggi, karena kegiatan opersional dan pelayanan justru lebih banyak dilakukan di tingkat fakultas

 

Pemecahan Masalah:

  1. Pejabat-pejabat di Fakultas yang diangkat dengan SK Rektor sebaiknya remunerasinya ditanggung oleh Universitas, minimal untuk: Dekan dan Pembantu Dekan (seperti di UI, dll) agar ada keseragaman dan tidak menimbulkan kecemburuan antar fakultas. Sedangkan DIPA Fakultas hanya menanggung remunerasi di tingkat fakultas terutama untuk para pelaksana yang diangkat dengan SK DEKAN
  2. Implementasi poin 2 di atas dilakukan secara bertahap, minimal tahun 2012 untuk remunerasi untuk Dekan dan PD atau ditambah Kabag/Kasubbag
  3. Format remunerasi untuk dosen harus dipikirkan dengan melihat beban kerja atau kelebihan beban kerja dosen, atau kalau meniru di UI, pihak universitas memberikan tunjangan tambahan yang berbeda untuk katagori: dosen peneliti dan dosen pendidik, serta dosen biasa yang aktif di luar.
  4. Ke depan, Remunerasi seharusnya dibebankan kepada negara dan diharapkan UNDIP  untuk turut mendorong Dikti/Depdiknas mengusulkan format pemberian remunerasi ke DPR. Sudah cukup banyak departemen dan lembaga tinggi negara yang telah melakukan program remunerasi antara lain Departemen Keuangan, Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pemerintah Daerah DKI, Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet, dll.

Kita Perlu Menghargai Aktivitas Ekstra Kurikuler Mahasiswa

Tidak mudah untuk mengurus mahasiswa, karena  karakteristik mereka beragam, kemauan mereka beraneka ria,  demikian halnya motivasi serta aktivitas mereka.  Tergantung orientasi dan tujuan masing-masing, ada sebagian dari mahasiswa yang demikian aktif di berbagai kegiatan, tetapi ada sebagian yang lain yang pasif, yang untuk menggerakkan keompok yang terakhir ini kadang harus dengan sedikit  ‘ancaman’ yang dikaitkan dengan nilai dan syarat kelulusan.

Tidak jarang, ketika saya membuka acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa, jumlah peserta yang hadir hanya separuh bahkan kurang dari jumlah yang direncanakan.  Hanya untuk kegiatan yang dinyatakan oleh fakutas sebagai  ‘wajib diikuti’ , biasanya jumlah pesertanya memenuhi quota.

Dalam pandangan saya berbagai kegiatan kemahasiswaan sangat penting untuk meningkatkan soft skill mahasiswa dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam menghasilkan alumni yang berwawasan luas dan kompeten.  Ketidakadaan apresiasi dari institusi pendidikan terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa menjadi penyebab munculnya sikap apatis pada sejumlah mahasiswa.

Berawal dari hal-hal tersebut maka saya berfikir perlunya dibangun sebuah sistem yang membuat mahasiswa merasa dihargai ketika melakukan berbagai macam kegiatan ekstra kurikuler. Dengan demikian mahasiswa menjadi tertarik dan berlomba-lomba  terlibat pada berbagai kegiatan ekstra kurikuler di fakultas ataupun universitas.  Saya berusaha keras untuk mencari dan menciptakan sistem yang dapat berfungsi sebagai faktor pendorong agar mahasiswa aktif mengikuti beragam kegiatan ekstra kurikuler.  Melalui diskusi dan telaah yang melibatkan mahasiswa, pendamping mahasiswa dan pimpinan fakutas maka pada tanggal 31 Januari 2010 Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat mengeluarkan Surat Keputusan tentang Pedoman penilaian Kegiatan Ekstra Kurikuler Mahasiswa.

Berdasarkan SK tersebut, setiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa nantinya akan dihargai dengan satuan angka kredit yang disesuaikan dengan  bidang kegiatan, tingkat, dan bobot kegiatan yang dilakukan. Ruang lingkup Kegiatan Ekstra Kurikuler yang dihargai oleh fakultas meliputi segala aktivitas mahasiswa yang dilakukan dalam  bidang penalaran, minat bakat, dan pengabdian kepada masyarakat dalam lembaga kemahasiswaan yang ada pada tingkat fakultas, universitas maupun di luar universitas.

Untuk dapat mengimpementasikan ketentuan tersebut, jelas membutuhkan dukungan dan kerjasama semua pihak. Harapan saya sistem ini dapat diimpementasikan tidak hanya di tingkat fakultas, tetapi juga di tingkat universitas. Saya yakin apabila universitas mengadopsi sistem ini, prestasi ekstrakurikuer dan kiprah mahasiswa UNDIP akan berkibar di tingkat regional dan nasional. Semoga.

Studio Musik, mimpi jadi kenyataan (2)..

Mungkin sudah berpuluh kali saya memasuki ruang itu, ruangan yang biasa kami gunakan untuk rapat. Berbagai rapat pernah diselenggarakan di ruangan itu, dari sekedar diskusi ringan sampai dengan pertemuan yang serius. Fungsi dan peruntukannya pun berubah-ubah, dari semula markas tim SP4, sampai yang terakhir di peruntukkan sebagai ruang diskusi Unit Penelitian dan Pengabdian (sebelum unit-unit ini pindah di gedung baru). Di tempat itu, banyak dilahirkan pemikiran dan konsep pengembangan fakultas ke depan, serta diskusi serius tentang implementasi tridharma perguruan tinggi.

Kini ruangan berukuran 3 x 8 meter tersebut menjelma sebagai sebuah studio musik yang cukup eksotik, dengan disain kedap suara dan dilengkapi seperangkat alat band lengkap….. Saya yakin, ini merupakan satu-satunya studio musik yang ada di UNDIP saat ini, dan mungkin agak unik  karena fasilitas tersebut  dimiliki oleh fakultas yang core kompetensinya tidak sedikipun nyrempet bidang seni. Tetapi, seni memang sifatnya universal dan menjadi hak  setiap institusi untuk memberikan apresiasi dan perhatian tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah untuk mewujudkan fasilitas tersebut, butuh waktu lebih dari dua tahun untuk memperjuangkannya. Saya harus melobi banyak pihak, agar alat-alat musik yang dimiliki fakultas memiliki ruangan. Di tengah keterbatasan fasilitas yang dimiliki fakultas, jelas ide tersebut harus dikawal sedemikian rupa.  Meskipun tidak satupun alat musik yang bisa saya mainkan, tetapi ada keharuan tersendiri ketika fasilitas tersebut benar-benar menjadi kenyataan.

Saya sangat beruntung berada satu barisan dengan orang-orang yang menginginkan adanya media penyaluran potensi seni di kalangan civitas fakultas.  Bu Tinuk, Bu Chris dan Reza serta kawan-kawan dari UKK Studio 8 sangat luar biasa dalam memberi support dan mengapresiasi ide pengadaan fasilitas studio musik tersebut.

Semoga fasilitas tersebut dapat menghadirkan keindahan, membangkitkan bakat-bakat yang terpendam dan menjadikan fakultas ini tidak lagi garing dari suara-suara penuh kesyahduan.

Perlukah Fit and Proper Test Calon Dekan

Ada catatan menarik dalam dinamika proses pemilihan dekan FKM UNDIP 2010 yaitu ide fit and proper test bagi para bakal calon.

Pada tanggal 30 Juli 2010 Senat Fakultas mengadakan sidang pleno menindak lanjuti surat dari Rektor yang intinya meminta Senat Fakultas untuk segera melakukan pemilihan dan pengusulan calon dekan periode 2010-2014. Target kerja Senat Fakultas adalah tanggal 31 Agustus harus sudah menyelesaikan semua tahapan pemilihan dekan. Penentuan tanggal tersebut adalah sesuai aturan yang dikeluarkan universitas, bahwa selambat-lambatnya 3 bulan sebelum berakhirnya masa jabatan dekan harus sudah mengirimkan calon dekan baru ke Senat Universitas. Sebagai catatan, masa jabatan dekan periode sebelumnya berakhir pada tanggal 30 Nopember 2010.  Pada empat tahun lalu, Senat Fakultas melakukan voting penentuan dekan pada tangga 24 Agustus 2006. Artinya, tidak terjadi pergeseran waktu yang jauh dibandingkan perhelatan serupa tahun sekarang.

Kembali pada pokok cerita, pada rapat pertama tanggal 30 Juli telah diputuskan siapa saja panitia pemilihan dekan (PPD), tahapan/time skedul kerja dan persyaratan bakal calon (balon) dekan.  Anggota PPD yang terpilih sebanyak 7 orang yang terdiri 4 orang anggota senat dan 3 orang dari komponen dosen dan administrasi fakultas, dengan diketuai oleh sekretaris senat (sekaligus anggota), karena ketua senat/dekan mencalonkan kembali. Persyaratan utama sesuai peraturan universitas adalah calon berusia maksimal 61 tahun, berpendidikan magister dan memiliki jafung lektor kepala.

Yang ramai menjadi perdebatan pada rapat pertama tersebut adalah terkait dengan persyaratan calon dekan.  Munculnya perdebatan dalam kaca mata saya, dilatarbelakangi  kekawatiran sejumlah  anggota senat bahwa dosen yang memenuhi persyaratan jadi balon dekan relatif terbatas jumlahnya,  sehingga mereka berkeinginan  untuk menurunkan grade persyaratan dari lektor kepala menjadi lektor. Tetapi keinginan tersebut tidak disetujui oleh sebagian yang lain.  Kelompok yang tidak setuju terhadap wacana penurunan persyaratan beralasan bahwa bakal calon-lah  yang semestinya mengikuti standar peraturan yang ada, bukan sebaliknya, standar peraturan turunkan untuk disesuaikan dengan kualifikasi orangnya, kecuali bila benar-benar tidak ada yang memenuhi persyaratan, baru bolehlah grade diturunkan . Pada rapat pemilihan dekan empat tahun lalu, sebenarnya  aturan ini sudah selesai dibahas,  saat itu diputuskan: persyaratan bakal calon dekan harus memiliki jafung minimal lektor kepala atau satu grade lebih tinggi dari periode sebelumnya yang hanya lektor, dan akibat dari kesepakatan ini, incumbent dekan lama akhirnya tidak bisa masuk dalam bursa calon dekan periode keduanya.  Sungguh ironis, sehingga muncul anekdote pada waktu itu, bahwa beliau ibarat seseorang duda  sudah pernah menikah dan berhasil memiliki anak, tetapi kemudian  dikatakan yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan ketika dia mau menikah lagi.  Beliau merasa benar-benar didzalimi, karena persyaratan yang  telah ditetapkan tersebut dirasa ‘sengaja’ dibuat untuk mengganjal beliau yang kebetulan kepangkatannya masih lektor.  Oleh karena itu,  rasanya tidak adil, kalau pada pemilihan dekan periode ini,  ada keinginan agar grade persyaratan jafung tersebut diturunkan kembali agar beberapa orang yang masih memiliki jafung lektor bisa ikut mencalonkan diri….

Kembali ke pokok cerita, setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya rapat senat 30 Juli 2010 mengambil keputusan jalan tengah, yaitu persyaratan calon dekan mengadopsi aturan yang ditetapkan oleh universitas, hanya saja  jika jumlah bakal calon yang mendaftar kurang dari 3  orang maka persyaratan jafung akan diturunkan dari lektor kepala menjadi lektor dan akan dibuka penjaringan ulang. Adapun tentang tata cara penjaringan dan pemilihannya sepenuhnya mengacu pada peraturan universitas.  Ketika membahas item  yang berkaitan dengan  tata cara penjaringan dan pemilihan dekan, tidak ada tambahan aturan/ketentuan yang sampaikan oleh anggota senat, karena ini sudah menjadi ranah kerja PPD.  Namun belakangan ketika proses sudah berangsung sesuai tahapannya, ada keinginan sejumlah anggota senat untuk menambahkan persyaratan tambahan yang tidak terdapat pada peraturan universitas.  Inilah uniknya kita, suka tidak konsisten dengan keputusan yang pernah dibuat sebelumnya.

Waktupun bergulir masuk tahapan penjaringan, dan tim PPD mengirimi pada dosen yang memenuhi persyaratan form kesediaan untuk dicalonkan jadi dekan beserta syarat-syarat yang harus dilengkapi sesuai yang tertera pada peraturan universitas.  Persyaratan dan form kesediaan harus sudah dikumpulkan sampai batas waktu yang ditentukan, jam 14.00 tanggal 9 Agustus 2010.

Dari laporan tim PPD, yang akhirnya bersedia mencalonkan diri dan melampirkan persyaratan yang ditetapkan sebanyak 3 orang, yaitu: incumbent Bu Tinuk, Bu Fatimah dan Bu Laksmi. Tim PPD seanjutnya melakukan  proses verikasi sesuai kelengkapan persyaratan berdasarkan ketentuan universitas.  Dalam proses ini, saya mendengar bahwa  ada usulan dari salah seorang anggota PPD untuk menambah satu persyaratan lagi yaitu berupa surat keterangan  sehat, dan permintaan tersebut disampaikan melalui sms kepada para calon untuk segera disusulkan. Ada proses yang tidak prosedural disini,  karena  segala macam perberitahuan yang terkait dengan proses pencalonan kepada para balon semestinya melalui surat resmi dan ditandatangani ketua PPD. Belakangan diketahui bahwa tambahan persyaratan berupa surat sehat adalah bukan keputusan dari rapat tim PPD, tetapi atas inisiatif salah seorang anggota PPD. Ada apa dibalik semua itu, saya sendiri tahu.  Mungkin saja hal tersebut dilatarbelakangi adanya kekawatiran yang berlebih terhadap kondisi salah seorang bakal calon yang kebetulan baru saja sakit (sampai harus dioperasi).

Masalah persyaratan keterangan sehat dari dokter, seingat saya baik dalam pemilihan rektor ataupun pemilihan dekan sebelumnya bukan menjadi prasyarat pencalonan. Mungkin penting, tetapi menurut saya tidak merupakan persyaratan mutlak,  cukup sekedar sebagai syarat formil saja. Pada umumnya, mereka yang menjadi balon dekan, dilihat dari usia biasanya sudah menjelang manula, sehingga kalau mau fair sangatlah sulit untuk mencari balon yang benar-benar sehat (tidak sakit ganas, tidak dislipid, tidak obes, tidak pikun, tidak tekanan darah tinggi, tidak stroke, tidak DM, tidak ada masalah pada jantung, paru, hati dan ginjalnya serta bebas dari  penyakit metabolik lainnya).  Bahkan pada periode sebelumnya, ada salah satu bakal calon yang baru saja terkena serangan stroke tetap bisa maju dan  ketika itu tidak ada satupun anggota senat yang mempersoalkan.  Karena sifatnya sehat adalah ‘state’ atau kondisi sesaat maka sangat kurang pas kalau persyaratan ini dijadikan penentu layak tidaknya bakal calon dekan, kecuali yang bersangkutan benar-benar disable dan helpless.

Pada tanggal 18 Agustus 2010 dilakukan rapat penetapan bakal calon hasil penjaringan tim PPD. Pada rapat tersebut terjadi perdebatan yang berlarut -larut tentang perlu tidaknya fit and proper sebelum para bakal calon ditetapkan sebagai calon dekan.  Munculnya usulan tersebut tidak lepas dari penilaian sejumlah anggota senat, bahwa dari bakal calon yang mendaftar perlu dinilai kualitasnya dengan indikator track record, performa kepemimpinan, tingkat visioner-nya, kesehatan jasmani dan rohani, serta komitmennya sebelum ditetapkan sebagai calon dekan yang layak dipilih.  Intinya, mereka menghendaki sebelum ditetapkan sebagai calon dekan,  para balon harus lolos uji kelayakan terlebih dahulu. Jika dari balon dekan yang ada ternyata tidak memenuhi syarat uji kelayakan, maka Tim PPD akan melakukan penjaringan balon kembali.  Namun sebagian anggota senat yang lain berpendapat bahwa indikator-indikator kualitas tersebut sifatnya adalah subyektif, artinya sejumlah balon yang telah diajukan PPD kemungkinan  bisa saja tidak lolos  karena alasan-alasan subyektif tersebut, dan kalau proses ini diikuti maka penjaringan akan berlarut-larut dan memakan waktu. Kelompok ini berpendapat  bahwa  para balon hasil penjaringan Tim PPD sudah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai  calon dekan  karena sudah memenuhi persyaratan yang ditentukan universitas, sehingga kegiatan penilaian fit and proper cukup dilakukan dalam forum pemaparan visi dan misi di depan anggota senat dan civitas.  Artinya, kalau mau ‘menguliti’ para calon kaitannya dengan sejumlah indikator kualitas tersebut di sinilah forumnya. Karena pembicaraan berlarut dan sampai pada taraf kebuntuan maka akhirnya dilakukan voting.  Akhirnya disepakati bahwa para balon hasil penjaringan Tim PPD sudah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai  calon dekan. Sangat dinamis diskusi  yang terjadi di forum rapat senat fakultas, dan tentunya ini merupakan pembelajaran yang bagus dalam berdemokrasi.  Kita harus legowo terhadap apapun yang terjadi, sekalipun itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.  Semoga lanjutan cerita proses penentuan calon dekan terpilih tanggal 30 Agustus 2010 berlangsung happy ending dan sesuai dengan harapan semua pihak.  Yang jelas tidak ada yang sempurna di dunia ini, kalau tidak ada yang terbaik, maka kita semestinya memilih yang baik diantara yang tidak baik……

Pantaskah aku jadi dekan??

Di sejumlah fakultas di UNDIP tiap 4 tahun sekali secara rutin menggelar ritual  pemilihan dekan baru. Suasananya berbeda-beda di tiap fakultas, ada yang gegap gempita, tetapi ada beberapa yang adem-ayem, meskipun suasana rivalitas antar calon sangat terasa. Ada yang sangat bernafsu ingin mencalonkan diri dan berusaha agar dirinya terpilih, tetapi ada juga yang nyalon karena terpaksa, asal ngglundung. Ibarat percaturan politik, ternyata terjadi juga pertarungan antar kepentingan, ada tim sukses, intrik…bahkan back campaign…..si A begini, si B begitu….. Tapi yang jelas, sangat jauhlah dibanding Pilpres atau Pilkada, karena si calon tidak perlu modal besar, cukup dengan kepangkatan lektor kepala dan relasi yang baik dengan rekan sejawat, terutama para anggota senat, maka akan menjadi modal cukup untuk bisa terpilih jadi dekan.  Yah, inilah pesta demokrasi kecil-kecil ala Fakultas.

Menurut  saya, track record bakal calon dekan sangat  perlu untuk diteliti dan dijadikan pertimbangan dalam menentukan calon dekan baru.  Dari sekian banyak kriteria, berdasarkan pembelajaran saya selama ini, yang paling utama harus dipenuhi oleh seorang calon dekan adalah yang bersangkutan harus tidak memiliki cacat yang terkait dengan “keuangan”   Perihal masalah yang satu ini, orang-orang di sub-bag keuangan memiliki file yang lengkap…. (sebaiknya para anggota senat mestinya nanya dulu ke sana sebelum memutuskan pilihan).  Siapa saja dosen yang suka  “ngiyip” terkait dengan per’duwitan’ semua direkam dengan baik oleh para administrator keuangan. Apabila seorang dosen yang memiliki ‘cacat ini’ terpilih jadi pemimpin, maka keberadaanya bukan solusi bagi masalah yang dihadapi fakultas, tetapi justru akan menjadi penyebab masalah baru.

Persyaratan penting kedua yang harus dimiliki calon dekan adalah kedisiplinan masuk kerja.  Pekerjaan seorang dekan banyak terkait dengan urusan administrasi dan koordinasi. Jika selama ini si-calon ke kampus saja jarang (lebih parah lagi kalau kerjaan di fakultas hanya sambilan) maka kalau yang bersangkutan terpilih jadi dekan riwayat bakal kacau balaulah manajemen fakultas, disposisi surat terlambat, koordinasi nggak jalan……..Jangan sampai, untuk kegiatan seremonial, misanya membuka acara nantinya sering diwakilkan dengan alasan ‘sibuk’…  Untuk data yang satu ini bagian satpam fakultas mempunyai file-nya.   Tapi untuk urusan yang satu ini bisa dengan cepat diperbaiki, salah satunya dengan cara memperbaharui komitmen kerja.

Persyaratan ketiga yang harus diperhatikan adalah terkait dengan bagaimana si-calon memperlakukan orang-orang ‘bawahan’ di fakultas.  Kalau selama ini  si-calon memiliki perilaku  tidak ‘nguwongke’, tidak ‘nganggep’, tidak ‘ngopeni’,  tidak suka berbagi dan tidak pernah ”tepo seliro’ pada orang-orang ‘bawahan’, maka jangan berharap banyak dibawah kepemimpinannya akan terjadi perubahan yang diinginkan…karena keinginan dan aspirasi kaum ‘proletar’ akan terabaikan…. Untuk data-data tentang hal ini silahkan ditanyakan ke orang-orang ‘bawahan’ di fakultas.

Mengingat betapa sulitnya untuk dapat memenuhi segala persyaratan ‘moral’ di atas, maka siapapun yang akan ikut bersaing di bursa pencalonan dekan mesti menyiapkan diri jauh-jauh hari… (.)

Titik Kritis dalam impementasi Penganggaran BLU

Pada setiap awal tahun setiap fakultas membuat rencana kegiatan yang terangkum dalam RBA (Rencana Bisnis Anggaran) dan terjadwal bulan per bulan yang dituangkan dalam dokumen Renja atau RIPP (Rencana Impementasi Pelaksanaan Program).  Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai yaitu seringkali realisasi penerimaan tidak sesuai dengan yang diprediksikan, bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari besaran anggaran  dalam RBA.

Sayangnya, kepastian tentang berapa besarnya realisasi penerimaan fakultas baru bisa diketahui pada bulan Oktober (setelah selesainya proses daftar ulang dan pembayaran SPP/SPI/PRKM/SPMP). Jika ternyata  realisasi pendapatan  lebih  besar dibandingkan perencanaan dalam RBA, maka di akhir tahun anggaran fakultas akan memiliki sisa anggaran yang besar yang dapat diluncurkan di tahun berikutnya.  Akan tetapi, jika terjadi keadaan yang sebaiknya, dimana realisasi pendapatan lebih rendah  dibandingkan perencanaan dalam RBA, maka akan menjadi persoalan serius. Apabila implementasi kegiatan tetap dipaksakan mengacu pada RBA maka akan terjadi defisit anggaran.  Sehingga jalan keluarnya, fakultas harus segera dilakukan revisi RBA dan sejumlah kegiatan yang terpaksa tidak dapat didanai. Apabila dari awal persoalan tersebut tidak diantisipasi dan dikomunikasikan dengan baik kepada bidang, bagian dan unit-unit, maka akan berpotensi menjadi biang keresahan dan menjadi bom waktu ketidakpercayaan publik. Persoalan serius akan muncul, jika ternyata impementasi kegiatan sampai dengan bulan Oktober besaran dananya sudah mencapai besaran realisasi pendapatan yang diinformasikan oleh universitas. Berarti kegiatan di dua bulan yang tersisa (Nopember dan Desember) akan mandeg karena tidak tersedia lagi dana operasional.

Optimisme dalam menyusun RBA memang penting, tetapi apabila fakultas hanya mengandalkan  sumber-sumber pendapatan dari mahasiswa maka fenomena di atas akan terjadi setiap tahun. Disinilah pentingnya fakultas segera merencanakan dan mencari sumber-sumber revenue baru. Fakultas ekonomi sudah memulai dengan mendirikan usaha POM bensin, Fakultas Kedokteran dengan rencana opasional rumah sakit, lantas bagaimana dengan FKM???

Studio Musik: mimpi itu jadi kenyataan..

Saya sempat tertegun ketika memasuki bekas ruang unit SP4 dan Unit Penelitian/Pengabdian di Gedung B lantai 1. Ruangan tersebut sekarang berubah menjadi ruangan eksotis yang diperuntukkan sebagai  studio musik.   Ruangan berukuran 3 x 10 meter tersebut  didesain kedap suara dan dilengkapi seperangkat alat band lengkap. Alat band tersebut dibeli dua tahun lalu (2008) dan sebelumnya tidak memiliki tempat, sehingga terpaksa diboyong ke sana ke mari dan tak jarang ditaruh di ruangan kerja saya di ruang PD3.  Di satu waktu, kadang saya iseng memainkan salah satu alat musik tersebut sekenanya (maklum  saya tidak menguasai satu alat musikpun). Mimpi itupun kini jadi kenyataan.

Saya rasa, FKM saat ini menjadi satu-satunya fakultas di Universitas Diponegoro yang memiliki fasilitas studio musik yang cukup representatif dan eksotik.   Sepertinya, untuk urusan inovator pengadaan fasilitas kegiatan kemahasiswaan,  dalam tiga tahun ini fakultas cukup banyak yang bisa dibanggakan. Dua tahun lalu (2008) fakultas berhasil membangun fasilitas klinik berhenti merokok, sekaligus diperuntukkan sebagai klinik  kesehatan yang memberi pelayanan gratis bagi mahasiswa. Tahun lalu (2009), fakultas juga berhasil membangun fasilitas lapangan futsal di fakultas, hanya sayangnya karena pengerjaannya kurang baik, sehingga menyebabkan bangunan tersebut harus direhap ulang pada tahun 2010.

Ada tiga fasilitas kemahasiswaan lagi yang masih dalam proses penyelesaian yaitu ruangan BEM baru di gedung C dan perluasan ruang mushola, serta satu lagi dalam proses perancangan, yaitu koperasi mahasiswa di eks ruang BEM.  Oh ya, pada akhir tahun 2007, kemahasiswaa juga mendapatkan tambahan fasilitas ruang PKM untuk based camp UKK dan senat di Gedung B lantai 2.  Sebelumnya, bertahun-tahun  temen-temen mahasiswa hanya memiliki satu ruangan (BEM) untuk based camp kegiatan organisasi kemahasiswaan, yaitu  di lantai satu bawah tangga Gedung B.   Saya secara pribadi  sangat appreciate kepada  dekan dan PD2 yang selama ini sangat responsif terhadap berbagai usulan dari bidang kemahasiswaan.   Saya berharap, sebelum berakhirnya masa jabatan saya sebagai PD3 (Juli 2011), semua fasilitas dasar untuk kegiatan temen-temen mahasiswa dapat terpenuhi. Memang di sana-sini masih banyak kekurangan, tetapi Insyaallah semuanya terus berproses menuju ke arah yang lebih baik….

SPJ oh… SPJ

Beberapa hari ini ada kesibukan yang luar biasa yang melibatkan semua civitas, baik dosen, karyawan dan mahasiswa di fakultas. Anehnya, aktivitas yang satu ini tidak terkait dengan tridharma perguruan tinggi sama sekali.  Semua orang yang terlibat jadi serius, berpikir keras dan berkejaran dengan date line (mirip wartawan aja)….karena tanggal 5 Agustus semua harus klar!!!!.. Pembaca jangan heran…kegiatan yang menghebohkan tersebut adalah membikin SPJ kegiatan.

Bagi orang proyekkan, membikin SPJ kegiatan merupakan  makanan sehari-hari, tapi bagi dosen dan mahasiswa agaknya aktivitas yang satu ini membuat kerepotan yang luar biasa karena di dalam perkuliahan, ilmu ini nggak pernah diajarkan ataupun dijadikan materi praktikum.  Repotnya lagi, kalau  yang harus di-SPJ-kan adalah kegiatan yang belum dilakukan………..alias SPJ bodong!   Bagi mereka yang masih menggunakan standar moral, dapat dipastikan pekerjaan ini tidak akan pernah klar, atau andaikan dipaksakan pasti akan terjadi pergulatan luar biasa di dalam perasaan, karena mengacak-acak hati nurani.  Namun apa daya, kita seakan-akan  terjebak  dalam sebuah pakem yang harus diikuti,  sebuah sistem yang mau-tidak mau kita terpaksa menceburkan diri di dalamnya….

Jelas ini adalah suatu jalan yang salah, dan tidak mendidik. Apalagi kalau  dalam proses tersebut juga melibatkan mahasiswa.  Hal ini akan menjadi pendidikan moral yang tidak baik bagi para calon-calon pemimpin bangsa ini.

Apakah kita bisa keluar dari lingkaran setan SPJ  model ‘apus-apusan’ tersebut??   Menurut saya, bisa!  Sebab,  sistem tersebut sebenarnya kita sendiri yang membuatnya.  Ikhwal munculnya aktivitas tersebut adalah terkait dengan sistem manajemen keuangan model potong kompas.  Dalam ranah keuangan BLU terdapat mekanisme penurunan uang kegiatan  setidaknya ada empat model yang sering digunakan, yaitu: UP (Uang Persediaan), TU (Tambahan Uang) dan GU (Ganti Uang), serta LS. Dengan memenej sedemikian rupa penggunaan UP, TU dan GU, sangatlah mungkin perilaku pembuatan model SPJ yang mendahului kegiatan tersebut untuk dihilangkan….. Karena logika yang benar, sebelum kegiatan dilakukan, panitia pelaksana kegiatan semestinya mendapatkan uang muka untuk memulai kegiatan.  Pembuatan SPJ kegiatan dilakukan setelah kegiatan berjalan dan disesuaikan termin penyelesaian pekerjaan yang disepakati untuk mendapatkan GU.

Di awal tahun anggaran biasanya pihak pusat (Keuangan Rektorat) akan memberikan alokasi UP (uang persediaan) kepada tiap fakultas.  Ibarat lokomotif, mestinya penggunaan UP oleh fakultas harus  selektif dan memberi dampak multiplayer ke depan. Jangan sampai UP tersebut habis untuk satu kegiatan saja (misalnya satu kegiatan besar yang membutuhkan dana besar), karena jika itu terjadi berarti banyak kegiatan lain yang akan terbengkalai bahkan terhenti menunggu turunnya pengajuan  GU atau TU pertama (kadang tidak selancar yang diharapkan).  Selain itu, apapun alasannya kegiatan-kegiatan yang belum terdanai atau terealisir pada tahun sebelumnya, harusnya tidak boleh diluncurkan pada tahun berikutnya. Karena ini akan menyedot atau mengurangi  alokasi untuk tahun anggaran yang sedang berjalan,  bahkan dampaknya bisa membuat sejumlah kegiatan di bulan-bulan awal menjadi ‘mandeg’.  Sebenarnya kalau fakultas memiliki dana ‘talangan’  yang memadai  maka ‘kemandegan’ tersebut dapat dicegah. Meskipun sebenarnya keberadaan dana ‘talangan’ tersebut tidak dibenarkan dalam sistem BLU.   Sejumlah fakultas yang ‘kaya’, konon nyaris tidak mengalami kesulitan keuangan di awal tahun anggaran.

Sesulit apapun, semestinya kita harus segera berusaha menghentikan perilaku dan kebiasaan yang tidak baik  serta merusak tatanan moral kita.  Jika hal demikian berlanjut maka akan membuat  kehidupan kita tidak nyaman  dan nurani kita tercederai……

Kebaikan yang tidak terbalas

Saya teringat kejadian 5 tahun lalu, malam itu puteri sulungku datang menghampiriku yang sedang duduk santai dengan istri sambil membawa selembar kertas lembar kerja siswa dari guru SD-nya.

“Pa, tolong aku dibantu ya, aku ada PR dari guruku untuk mengisi dua buah pertanyaan ini, sebenarnya pertanyaannya mudah tapi  aku kok sulit mengingatnya!”.

Sambil berkerut, saya baca soal tersebut. Memang pertanyaan yang mudah dan sederhana:

  1. Buatlah daftar apa saja yang telah kamu terima dari kedua orang tua-mu?
  2. Buatlah daftar apa yang telah kamu berikan kepada kedua orang tuamu?

Saya kemudian berkata: ” Kamu pasti bisa membuatnya dik, karena setiap hari kamu kan merasakannya, cobalah mengingatnya dari apa yang terjadi pada hari ini, kemarin …. kemudian kamu runut hingga saat kamu masih bayi”

Akhirnya malam itu, anakku berhasil menyelesaikan tugasnya mengisi daftar tersebut.

Para pembaca yang budiman, ternyata diluar dugaan saya dan istri, anakku berhasil mengiventaris lebih dari 100 buah kebaikan yang dia terima sebagai anak..

Kami-pun lantas berfikir, berarti sebanyak itu pula yang dulu juga saya terima dari Bapak dan Ibu saya, bahkan mungkin lebih banyak lagi .

Sungguh jasa dan kebaikan orang tua sangat luar biasa, bagaimana tidak.  Sebelum kita jadi manusia yang mandiri maka tiap hari hidup kita tergantung pada pemberian orang tua kita, dari makan, pakaian, uang sekolah, periksa ke dokter jika sakit, bahkan pada saat masih kecil setiap hari kita dimandikan, dipijiti, digendong, disuapi, diceboki, disayang, dininabobokankan, dan kalau sakit maka semalaman orang tua rela berjaga untuk tidak tidur demi kita anaknya.  Berapa rupiah uang mereka yang telah dibelanjakan untuk kita? Pastilah sebuah jumlah yang luar biasa banyaknya, yang mungkin kita tidak akan bisa mengembalikan atau membalasnya. Belum lagi pengorbanan mereka yang lain. Sebuah contoh hitungan sederhana saja, sampai dengan usia 5 tahun berarti kita  sudah 3.450 kali  dimandikan dan 1,725 kali diceboki, 5.325 kali disuapin  oleh orang tua kita.  Allahu Akbar, ternyata sangat luar biasa besar….. Dan….yang lebih luar biasa, semua itu mereka lakukan dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang….. Andaikan kita diminta membalas seperseratus dari yang pernah mereka lakukan, mungkinkah kita akan melakukannya dengan senang hati tanpa berkeluh kesah???

Sekarang mari kita jujur pada diri sendiri, coba kita renungkan, kebaikan apa yang telah kita berikan kepada orang tua kita?. Kalau kita menuliskannya pada sebuah daftar maka…. kita akan malu sendiri, ternyata belumlah seberapa.  Kita kadang malah lebih sering membuat mereka kesal, sedih atau kawatir dengan kelakuan kita, dari pada membuat  mereka tertawa dan bahagia karena kebaikan yang kita berikan.

 

Pembaca yang budiman, sebelum terlambat, selagi mareka masih bersama kita atau sebelum mereka meninggalkan kita, maka ini-lah saatnya untuk berbuat baik kepada orang tua kita. Berilah persembahan yang terbaik, wujudkan apa yang beliau inginkan  dan katakan ” Pa.. Ma… I love You” dengan setulus hati dan membuktikannya dengan tindakan

Andaikan mereka telah meninggalkan kita, maka jangan lupa, sempatkan waktu untuk berdoa untuk mereka dan berilah kesaksian kepada Allah.. mereka adalah orang tua yang luar biasa.

Semarang, 10 Nopember 2009

Ditulis:  Suyatno
Teruntuk Alm. Bpk/Ibu Heru Utomo, kami selalu merindukanmu..Semoga Allah memberi tempat terindah di sisi-Nya.

Skip to toolbar